Qadha dan Qadar Allah Serta Balsan Terhadap Amalan Manusia

Tidak ada yang menginginkan penderitaan, tidak ada yang mau hidup miskin, terhina dan diremehkan. Semua orang menginginkan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan dan ketenangan.

Tapi pada kenyataannya, ada juga orang yang terlahir miskin, serba kekurangan dan sakit-sakitan. Semua itu adalah qadha' (ketetapan) dari ALLAH swt. Ia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tak ada yang bisa keluar dari ketetapan-Nya. ALLAH membuat kaya siapa yang dikehendaki, dan ALLAH membuat miskin siapa yang dikehendaki.

Wajib bagi manusia, khususnya umat Islam untuk meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas izin-Nya, entah kejadian baik ataupun buruk.

Namun bukan berarti ALLAH pilih kasih, atau dzalim terhadap manusia, na'udzubillah. ALLAH telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi riwayat imam Muslim, "Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling mendzalimi."



Lantas, mengapa ada yang ditakdirkan kaya ada juga yang miskin? Itu adalah ujian dari ALLAH. ALLAH tidak menghukum (dosa) orang yang miskin, ALLAH juga tidak menghukum orang yang kaya. Tapi ALLAH menghukum orang yang putus asa dalam kemiskinannya dan menghukum orang yang sombong dengan kekayaannya.

Manusia tidak akan dihukum berdasarkan qhada' yang menimpa dirinya, tapi, manusia akan dihukum tergantung responnya terhadap qhada' tersebut. Jika ia merespon dengan sesuatu yang diridhai oleh ALLAH, maka ia akan mendapat pahala, sebaliknya, jika ia merespon dengan sesuatu yang dibenci ALLAH, maka dia mendapat siksa.

Jadi, dalam menjalani kehidupan ini santai saja. Jikalau keadaan sedang miskin, maka bersabarlah dan tetap berusaha. Jika sedang kaya, maka bersyukurlah dan perbanyak sedekah.

Sabar dan syukur, itulah kunci sukses dalam menjalani kehidupan ini. Akumulasi harta dan hidup mewah adalah standar kesuksesan ideologi Kapitalis, bukan Islam. Standar kesuksesan Islam adalah ridha ALLAH semata, dan itu tidak bisa dilihat di dunia. Jadi, sukses sesungguhnya hanya bisa dilihat di akhirat nanti, ketika kedua kaki seorang hamba telah menapaki Surga-Nya.

Lagipula, orang yang ditakdirkan miskin, cacat atau sakit-sakitan dalam kehidupan dunia ini, penderitaannya tidaklah seberapa ketimbang orang yang memilih masuk Neraka, dari sisi perbandingan waktu saja sudah sangat jauh berbeda, apalagi dari sisi kesengsaraan.

Tentu, orang yang memilih masuk Neraka, nantinya akan jauh lebih menderita ketimbang manusia paling menderita di permukaan dunia. Saking menderitanya, sampai-sampai dia lupa semua kenikmatan yang pernah diperoleh di dunia, sekalipun dahulu dia adalah orang terkaya, terpopuler, tersehat, terganteng/tercantik, terpintar dan seabrek kenikmatan dunia lainnya pernah dia rasakan. Sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah saw. 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, Rasulullah saw bersabda, "Pada hari kiamat kelak akan dihadirkan calon penghuni Neraka yang paling banyak merasakan nikmat saat di dunia. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka. Lalu ditanya, 'Hai manusia, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?' Dia menjawab, 'Tidak sama sekali, demi ALLAH, wahai Tuhanku.' Akan dihadirkan pula calon penghuni Surga yang paling sengsara/menderita saat di dunia. Lalu dia dicelupkan ke dalam Surga dengan sekali celupan. Kemudian dia ditanya, 'Hai manusia, pernahkah kamu melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?' Dia menjawab, 'Tidak. Demi ALLAH, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat adanya kesengsaraan sedikitpun.'"

Seperti itulah gambaran perbedaan level antara dunia dan akhirat, sekalipun penghuni Neraka itu pernah merasakan banyak kenikmatan dunia, namun setelah dicelup dengan sekali celupan saja di Neraka, seketika dia langsung lupa semua kenikmatan yang pernah dia rasakan, saking dahsyatnya pemandangan dan siksaan yang ada di Neraka. 

Tentu kita tidak menginginkan hal itu (siksaan), sebagai manusia yang masih waras, tidak ada yang ingin disika. Tapi, pada hari ini kita melihat, kenapa ada orang yang memilih jalan ke Neraka? Padahal dia masih waras, masih bisa berfikir dan masih bisa membedakan mana makanan dan mana kotoran.

Hal ini bisa terjadi diakibatkan adanya kesombongan dalam hati yang menyebabkan tertutupnya akal sehat. Maka kita harus berhati-hati dengan penyakit hati yang satu ini.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits riwayat Imam Ahmad, "Orang yang meninggal dunia, dan ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula melihatnya."

Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadits riwayat Imam Thabarani, "Ada tiga golongan yang tidak perlu ditanya tentang mereka itu (dan langsung dimasukkan neraka) yaitu : 1. Orang yang mencabut selendang ALLAH, sesungguhnya selendang ALLAH itu adalah sombong dan pakaian-Nya adalah kebesaran, 2. Orang yang ragu-ragu terhadap perintah ALLAH dan, 3. Orang yang putus asa dari rahmat ALLAH."

Oleh: Ma'arif Amiruddin 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Qadha dan Qadar Allah Serta Balsan Terhadap Amalan Manusia"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.