Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam

Imam Al-Bukhari mengisahkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa suatu ketika ada seseorang dalam keadaan lapar yang mendatangi Nabi SAW, lalu beliau mengirim seseorang ke istri-istri beliau. Istri-istri Rasulullah SAW menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air.” Rasulullah SAW berkata, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” 

Salah seorang kaum Anshar berseru, “Saya.” Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, dia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah SAW!” 

Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” 

Orang Anshar itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu, nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak jika mereka minta makan malam!” 



Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Suami-istri ini memperlihatkan seakan-akan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. 

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah SAW lalu beliau bersabda, “Malam ini Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), ‘dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung,’ (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Kisah ini merupakan contoh tentang akhlak mulia dan perbuatan yang baik. Kisah ini mengandung pelajaran tentang kesabaran, menanggung kesulitan, zuhud, memuliakan tamu, memberikan perhatian pada tamu, mengutamakan tamu, dan kedermawanan. 

Semua ini merupakan pelajaran yang berkilau dan nasihat yang menyenangkan yang memenuhi kehidupan Salafussaleh. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW sehingga Allah menambah keimanan mereka dan memberikan hidayah kepada mereka.

Pelajaran tentang kesabaran, menanggung kesulitan, dan zuhud yang dipahami dari kandungan dan maksud cerita di atas  adalah, ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu dan mengirim seseorang ke istri-istrinya, mereka tidak memiliki apapun kecuali air. 

Peristiwa ini terjadi sebelum Allah menaklukkan Khaibar dan lainnya untuk kaum muslimin. Namun demikian, meskipun sudah terjadi berbagai penaklukan dan harta melimpah, Rasulullah SAW tidak pernah merasakan kenyang selama tiga hari berturut-turut. 

Rumah-rumah Rasulullah SAW merupakan contoh mulia mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri. Aisyah r.a berkata, “Rasulullah SAW tidak merasa kenyang selama tiga hari berturut-turut. Jika kami ingin, kami dapat mengenyangkan beliau, tetapi beliau lebih mengutamakan kepentingan orang lain atas dirinya.”

Kisah ini juga mengandung pelajaran tentang memuliakan tamu dan memberikan perhatian pada tamu. Memuliakan tamu adalah wajib, seorang muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini karena tidak mampu atau miskin, dia harus tetap melaksanakan kewajiban ini atau dia minta tolong kepada orang yang mampu dan mempunyai sesuatu untuk menjamu tamu. 

Setiap orang tidak boleh meninggalkan kewajiban dengan alasan tidak mempunyai harta yang berlebih. Sebagaimana seorang lelaki Anshar yang bangkit memberi jamuan untuk tamu yang tidak dikenalnya, padahal di rumahnya hanya ada makanan untuk anak-anaknya, tetapi anak-anaknya adalah anak-anak yang berani, dermawan dan menyukai tamu. 

Memuliakan tamu menunjukkan kebenaran keimanannya kepada Allah dan Hari Akhir, sebagaimana hadits:

 “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka muliakanlah tamu.”

Pelajaran tentang kedermawanan sangat jelas. Seorang laki-laki yang hanya memiliki makanan untuk anak-anaknya, sedangkan dia dan istrinya entah sudah makan atau belum, tetapi makanan itu untuk anak-anaknya karena mereka lebih membutuhkan. Meskipun dalam kondisi dia dan anak-anaknya membutuhkan makanan, tetapi dia memuliakan tamunya dengan menyuguhkan makanan tersebut. 

Pengorbanannya dan kedermawanannya itu tidak dikotori dengan memperlihatkan dan menyebut-nyebut pemberiannya, juga tidak dikotori oleh perasaan bersalah tamunya. 

Sebab, kedermawanannya itu dihiasi oleh sikap menjaga perasaan orang lain. Betapa banyak kedermawanan yang dikotori oleh interaksi yang buruk di hadapan tamu. Betapa banyak pengorbanan yang diabaikan karena sikap menyebut-nyebut kebaikan dan menampakkannya. 

Namun, kedermawanan dan pengorbanan di kisah ini dihiasi oleh kemuliaan perasaan dan perasaan yang mendalam sehingga dia mengutamakan tamunya dan tidak berkeinginan untuk menampakkan hal itu kepadanya, atau menjelaskan kepada tamunya bahwa dia hanya memiliki itu. 

Kemudian istrinya menyiapkan makanan, menidurkan anak-anaknya, memadamkan lampu, dan dia beserta istrinya berpura-pura makan di hadapan tamunya untuk menjaga perasaan tamunya dan menjauhkan rasa bersalah darinya, sehingga kedunya menghabiskan waktu malam dalam keadaan lapar. Meskipun demikian, hal itu lebih mereka sukai dan utamakan. Dan, hal itu lebih besar pahalanya di sisi Allah.

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada pasangan suami istri tersebut karena kedermawanan mereka berdua, yaitu Allah meridhai dan mencintai mereka berdua. Kedermawanan merupakan akhlak Islam yang mulia. Kedermawanan akan membuat seseorang mendahulukan orang lain atas dirinya. 

Kedermawanan hanya akan tumbuh dari keyakinan yang kuat, cinta yang kuat, dan sabar atas kesulitan karena dia mendermakan hartanya sedangkan dia membutuhkannya dan mendahulukan orang lain atas dirinya, ini sama saja dia mendahulukan amal saleh yang kekal dan mahal atas kebaikan kehidupan dunia yang fana. Rasulullah SAW bersabda: 

 “Barang siapa yang mencintai akhirat-nya, niscaya dia mengorbankan dunianya; dan barang siapa yang mencintai dunianya, niscaya dia mengorbankan akhiratnya, maka utamakanlah sesuatu yang kekal (akhirat) daripada yang akan sirna (dunia),” (HR. At-Tirmidzi).

Kisah ini adalah gambaran sifat utama, akhlak mulia, karakter mulia, dan karakter dermawan pada diri orang-orang Anshar dan orang-orang Muslim lainnya yang dididik dengan ajaran Islam dan diisi dengan sifat-sifat utama dan mulia. 

Mereka adalah tauladan bagi orang yang dikuasai setan dan dikuasai oleh cinta harta yang membuatnya berlomba-lomba dalam kehidupan dunia dan melupakan akhirat, juga membuatnya bergegas memandangi apa yang dimilikinya dan melupakan apa yang ada di sisi Allah. 

Kisah ini merupakan panggilan untuk kembali ke akhlak Islam dan berpegangan pada akhlak salaf periode pertama yang tidak terpengaruh oleh kehidupan dunia, mereka merindukan akhirat padahal mereka berada di atas bumi. Tingkah laku mereka merupakan manifestasi dari hal-hal yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Oleh: Lutfi Bawazier, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Muhammadiyah Malang.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk " Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.