Bagaimana Pandangan Al-Qur’an tentang Bencana Alam

Banjir, gempa bumi, dan longsor menyambut tahun 2021 ini. Bencana alam yang melanda Indonesia saat ini, menyebabkan duka dimana-mana. Sebenarnya apa penyebab bencana alam terjadi? Ada beberapa analisis penyebab bencana dalam dalam pandangan Al-Qur’an, berikut ini.

1. Banyaknya Pemimpin yang Dzolim

Seorang pemimpin adalah adalah sosok yang diteladani, yang mencerminkan perilaku-perilaku kebaikan. Salah satu ciri bahwa hari kiamat sudah dekat adalah adanya pemimpin-pemimpin yang dzolim. Maka dari itu, bencana alam yang terjadi juga termasuk tanda-tanda hari kiamat. Banyak pemimpin-pemimpin yang dzolim baik yang terlihat jelas atau pun yang tersembunyi. Pemimpin-pemimpin yang dzolim inilah yang akan membawa malapetaka dan jalan yang salah kepada rakyatnya, sehingga rakyatnya akan terbawa kepada keburukan. Dengan adanya bencana alam ini, Allah SWT memberikan peringatan kepada manusia agar segera menjauhi kemaksiatan dan kedzoliman. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Isra :17 ayat 16 yang artinya,

“Dan jika Kami membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).”



Sudah jelas dikatakan bahwa, jika di suatu negeri atau di suatu tempat banyak terjadi kemaksiatan maka Allah SWT akan menimpakan hukuman kepada penduduk negeri atau tempat tersebut. Sungguh, kemaksiatan itu sangat dibenci oleh Allah SWT.

Kita bisa mengingat peristiwa yang terjadi pada kaum Nabi Nuh yang tidak beriman, ditimpakan banjir besar oleh Allah SWT. Dari kisah tersebut membuktikan, bahwa hukuman Allah SWT benar adanya.


2. Ujian bagi Orang Beriman

Dalam Q.S Al-Ankabut : 29 ayat 2 yag artinya, 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?”

Dalam surat tersebut dijelakan bahwa, Allah SWT akan menguji umatnya yang telah beriman kepadanya sebagai bentuk kasih sayang kepada hambanya-Nya. Ujian ini diberikan agar Allah SWT mengetahui seberapa kuat keimanan hamba-hamba-Nya.

“Dan sesungguhnya Kami telah Menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan  mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S Al-Ankabut : 29 ayat 3)

Bencana alam yang terjadi ini, menjadi pengingat dan penguat keimanan kita kepada Allah SWT dan senantiasa mengingat-Nya dalam keadaanya apapun.


3. Ulah Manusia

Tidak dapat dipungkiri, bahwa bencana alam yang terjadi ini disebabkan pula oleh tangan-tangan jahat manusia. Kerakusan dan ketidakpuasan manusia terhadap alam, membuat manusia lupa untuk menjaga alam.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S Ar-Rum : 30 ayat 41).

Manusia terus mengambil hasil alam dengan seenaknya, sehingga bencana alam ini adalah bentuk “Kemarahan” alam terhadap manusia. Dijelaskan pula dalam ayat 42,

 “Katakanlah (Muhammad), ‘Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).” Membuktikan bahwa orang-orang yang merusak alam, termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah SWT. Hal ini pula berkaitan dengan kualitas keimanan seseorang, karena orang yang bertauhida dan beriman, tentunya akan mengerti akan pentingnya menjaga alam.


IDENTITAS PENULIS

Nama saya Nissa Dwi Anggraeni. Seorang perempuan yang masih belajar tentang kepenulisan. Berdomisili di Sukabumi. Saya suka menulis dan hal-hal mengenai bacaan Islami, karena membuat saya selalu ingat untuk menginstropeksi diri saya menjadi lebih baik. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bagaimana Pandangan Al-Qur’an tentang Bencana Alam"

Post a comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.