Peranan Bank Syariah Di Masa Pandemi Covid-19

Kasus kematian akibat wabah covid-19 semakin merajalela diberbagai negara, tidak hanya Indonesia. Banyak negara menerapkan upaya untuk mengurangi wabah covid-19 dengan menerapkan sistem lockdown atau PSBB. Namun sayangnya, gerakan ini berpengaruh pada penurunan aktifitas ekonomi secara masif. Beberapa lembaga riset didunia juga turut memprediksi dampak buruk atas penyebaran wabah ini terhadap ekonomi global. Salah satu dampak diberlakukannya keputusan PSBB yakni menghambat arus lalu lintas perekonomian baik secara regional, nasional, hingga internasional.

Akibat penerapan PSBB tersebut telah menyebabkan perekonomian menderita. Ekonomi mengalami kontraksi bahkan beberapa negara justru mengalami resesi, pengangguran meningkat pesat, diberbagai daerah memustukan menutup pariwisatanya, jumlah penduduk miskin kian melonjak. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali membuka kembali ekonomi, dengan menata sektor kesehatan. Bahkan dalam ilmu ekonomi, apabila suatu variabel pendukung terhambat maka produksi tidak akan berjalan dengan baik, seperti pasokan bahan baku dan kegiatan operasional produksinya terhambat dan tidak bisa berjalan dengan baik akibat adanya pembatasan wilayah yang menyebabkan produksi menurun dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. 


Sudah seharusnya kita sebagai penganut agama Islam dengan negara yang bermayoritaskan agama Islam sadar agar memberikan peran terbaik melalui berbagai bentuk kontribusi dalam ekonomi dan keuangan syariah. Berdasarkan data yang dipublikasin OJK pada tahun 2019, bank syariah telah mampu menorehkan keuntungan sebesar Rp 5,5 triliun, pangsa pasar perbankan syariah di indonesia juga sudah mampu menembus angka 6 persen berdasarkan data OJK atau sekitar Rp 513 triliun. Oleh karena itu perbankan syariah mendukung upaya pemerintah untuk meminimalisir dampak yang disebabkan oleh pandemi, dengan lebih ikut berperan dalam pemberdayaan dan pembiayaan produktif kepada UMKM. Kerugian yang disebabkan pandemi ini merambat ke seluruh sektor, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan, berdasarkan data ILO memperkirakan 6,7% atau setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu terkena dampak akibat pandemi secara global. Namun sektor yang mengalami kerugian terbesar adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Indusutri UMKM adalah sektor yang paling terpuruk, akibat penerapan PSBB. Untuk menstimulus keadaan perekonomian khususnya UMK, pemerintah melalui OJK menerbitkan POJK No 11/POJK.03/2020 untuk memberikan relaksasi kepada nasabah perbankan termasuk perbankan syariah, yaitu memberikan kemudahan proses restructuring dan rescheduling untuk nasabah yang terdampak covid-19 khususnya nasabah sektor UMKM atau non-UMKM yang memiliki pembiayaan dibawah Rp 10 miliar,berlaku satu tahun kedepan bergantung pada kebijakan masing-masing bank syariah.

Adapun peran bank syariah kepada nasabah yang terdampak selama pandemi ini sebagai bentuk kepedulian atau solusi terhadap ekonomi dan keuangan sosial Islam diantaranya :

  • Memberikan penundaan pembayaran angsura murabahah ataupun sewa diakad ijarah dan musyarakah mutanaqishah (antara 6-7 bulan). Sedangkan untuk pembiayaan menggunakan akad mudharabah, musyarakah, dan wakalah, pembayaran bagi hasil dapat ditunda atau ditiadakan;

  • Memberikan kelonggaran fasilitas restruksi atau penjadwalan ulang khusunya pada akad ijarah dan musyarakah mutanaqishah sehingga biaya sewa yang dibebankan kepada nasabah bisa lebih kecil dari biasanya. Dengan catatan pembiayaan dengan akad murabahah harga tidak boleh berubah dari kesepakatan awal. Namun dengan akad ijarah dan sejenisnya keadaan kesepakatan bersama antara bank dan nasabah bisa disesuaikan selama keduanya saling menerima:

  • Zakat perusahaan, karyawan dan pemegang saham sesuai dengan anjuran Islam porsi zakat yang harus dikeluarkan agar segera dikeluarkan dan dapat disalurkan kepada yang mustahik. Sebaiknya bank syariah dan pemegang zakat perusahaannya (zakat maal) mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen untuk membantu masyarakat yang lemah ekonomi dan disalurkan ke lembaga zakat negara maupun swasta profesional. Dilakukan sebagai wujud ketaatan bank kepada prinsip syariah;

  • Dana akun kebajikan. Mendistribusikan semua dana pada akun kebajukan yang berasal dari denda telat bayar ataupun perjanjian yang tidak sesuai syariah dialokasikan ke pos penanganan covid-19 dan tidak dimasukan pendapatan operasional;

  • Bank syariah juga harus mempertimbangkan untuk mendistribusikan dana CSR untuk penanganan covid, pembagian sembako, alat kesehatan untuk masyarakat yang membutuhkan, begitu juga keuntungan bank syariah harus di distribusikan;

  • Pemberdayaan sekaligus penguatan sektor filantropi Islam, dimana zakat harus disalurkan dengan tepat, perlunya kesadaran untuk pengumpulan unit-unit zakat maupun dari masyarakat, khusus zakat yang bersifat tunai, penyalurannya harus di fokuskan kepada orang yang berhak menerima yang terdampak covid-19 secara langsung. Begitu juga dengan sembako dan lainnya. Perlu kita sadari bahwa realisasi pemasukan zakat semakin menipis kurangnya kesadaran dari masyarakat yang mampu untuk membayar zakat dan wajib zakat, untuk itu perlu adanya penguatan kampanye dana zakat,infaq,sedekah agar masyarakat dapat menyadari bahwa peranan bank syariah tetap sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. 

Dalam hal ini bank syariah sudah cukup berperan dalam pemulihan ekonomi, namun bank syariah juga diharapkan mampu mengahadirkan produk yang memberikan dampak sosial yang lebih di masa pandemi ini.

Jadi tidak ada salahnya pada tahun ini fokusnya pada pemulihan ekonomi dan membantu nasabah yang terdampak  agar kondisi perekonomian cepat pulih sehingga UMKM dapat berjalan seperti biasanya dengan harapan kita juga sama-sama saling mengingatkan untuk lebih memperhatikan keuangan syariah dan harapannya juga bisa lebih berkontribusi nantinya di perbankan syariah.


Oleh : Windi juni Alma 
(Mahasiswi STEI SEBI, Depok)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Peranan Bank Syariah Di Masa Pandemi Covid-19"

Post a comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel