Bagaimana Islam Memandang Kegagalan

Kegagalan adalah suatu keadaan atau kondisi dimana tidak memenuhi tujuan yang diinginkan atau dimaksudkan, dan dapat dipandang sebagai kesuksesan. Kegagalan disebut juga hasil akhir dari suatu pencapaian yang bersifat tidak sesuai dengan keinginan. 

Setiap manusia selalu punya impian dan tidak jarang mereka yang bermimpi atau bercita-cita mengalami kegagalan. Bagi sebagian mereka ada yang memandang kegagalan sebagai sesuatu yang wajar terjadi dalam bercita-cita, dan sebagian lainnya memandang kegagalan sebagai akhir dari segalanya, mereka yang berpikiran seperti itu cenderung berputus asa dan dan berlarut dalam kesedihan. Bahkan lebih parahnya efek dari kegagalan bisa membuat mereka yang mengalami kegagalan itu stres dan melakukan hal-hal negatif karna pandangan tentang kegagalan yang salah. 

Padahal Islam sudah memberikan solusi bagi setiap permasalahan hidup manusia. “dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT”. Bukankah kita memang dianjurkan untuk menghabiskan jatah gagal sebelum kita berhasil, kegagalan adalah sesuatu yang harus dijadikan sebagai ajang intropeksi diri, dan melakukan perubahan menuju lebih baik. Apakah ikhtiar atau usaha kita sudah maksimal, apakah kita mengimbangi ikhtiar dengan doa atau tidak.

Dalam Islam ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam menggapai impian kita.

  • Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar atau berusaha dengan sungguh-sungguh dengan tidak menzalimi diri kita dengan rasa malas, belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan sungguh-sungguh karena dengan kesungguhan akan tercapai suatu keberhasilan. Jika kita berikhtiar dengan sekadarnya maka hasil yang kita dapatkan tentu dengan  sekadarnya. Bukankah manusia terbaik adalah yang terus berusaha dengan sungguh-sungguh.

  • Selanjutnya setelah berikhtiar atau berusaha kita sebagai muslim harusnya mengimbangi usaha-usaha kita dengan berdoa kepada Allah SWT, dengan begitu kita bisa lebih diberikan ketenangan, dan itu dengan berdoa menunjukkan kita sebagai hamba yang tanpa pertolongan Allah SWT bukanlah siapa-siapa. Maka harusnya kita selalu berdoa memohon pertolongan Allah SWT.

  • Setelah berusaha dan berdoa maka hal yang selanjutnya kita lakukan adalah bertawakal atau berserah diri kepada Allah SWT, karena terlepas dari besarnya  usaha yang kita lakukan, dan banyaknya doa yang sering kita dengungkan tidak terlepas dari kendali Allah SWT. Maka kita harus menyerahkan segala urusan kita hanya kepada-Nya. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa apapun pemberian Allah SWT nantinya akan menjadi pemberian yang terbaik, bertawakal kepada Allah SWT  atas apa yang sudah kita kerjakan.

  • Selanjutnya adalah sabar, sabar adalah tahap selanjutnya setelah kita berikhitar, berdoa dan bertawakal, sabar adalah kemampuan menunda kesenangan dan menjalani yang ada dengan ketekunan. Sabar atas apa yang diberikan Allah SWT, bagaimanapun hasilnya , entah itu sukses maupun gagal kita harus menanamkan sifat sabar dalam diri kita, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 153 yang artinya

    “ wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah SWT dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah SWT bersama orang-orang yang sabar”

    Dalam ayat itu dijelaskan bagaimana pentingnya sabar, bagaimana Allah mencintai orang-orang yang bersabar. Ayat diatas merupakan salah satu ayat favorit saya, yang menyadarkan saya bahwa kesabaran adalah sebaik-baiknya sikap ketika apa yang kita dapatkan tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan.

  • Lalu ikhlas, setelah semuanya berjalan dengan maksimal, setelah ikhtiar dengan sungguh-sungguh dengan diiringi Doa yang didengungkan lalu dengan tawakal yang sebenar-benar penyerahan, diakhiri dengan sabar maka hal yang kita lakukan dengan menutup segalanya adalah ikhlas sebaik-baiknya.

Setelah semuanya,kita harus pandai-pandai meyakinkan diri bahwa pilihan Allah SWT adalah sebaik-baik pemberian. Bisa jadi kita menginginkan sesuatu namun Allah memandang dan maha mengetahui bahwasannya hal itu tidak baik untuk kita. 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Semoga bermanfaat bagi kita semua Aamin.

Kontributor : Windi Juni Alma

Mahasiswa STEI SEBI depok.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " Bagaimana Islam Memandang Kegagalan"

Post a comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel