Makna Menghadap Kiblat di Dalam Syarat Sah Shalat

Sebagaimana pada syarat sah sembahyang atau shalat adalah menghadapkan badan ke kiblat. Menghadap ke kiblat pada mulanya adalah baitul maqdis, kemudian turun firman Allah agar memindahkan kiblat ke ka’bah baitullah di Mekkah Al Mukarramah. Ka’bah sebagai kiblat kita muslim untuk shalat maka wajib hukumnya untuk menghadap kepadanya ketika shalat kecuali hslat sunat. Hal ini akan kami jelaskan berikut ini bagaimana makna menghadap kiblat dengan benar sesuai anjuran syariat dan di dalam mazhab syafiiyah.

Bagian tubuh yang wajib menghadap kiblat ketika shalat adalah dada bukan muka. Seseorang yang memalingkan mukanya ketika shalat maka tetap sah shalatnya tetapi hukumnya makruh artinya lebih baik tidak berpaling mukanya. Tetapi apabila seseorang yang shalat kemudian dadanya berpaling dari arah kiblat maka batallah shalatnya. Shalat orang tersebut harus di ulang.

Makna Menghadap Kiblat di Dalam Syarat Sah Shalat
Baitullah

Kiblat pada shalat wajib

Wajib hukumnya menghadap kiblat pada shalat wajib artinya batal atau tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat. Ada dua tempat shalat tidak wajib menghadap kiblat yaitu shalat ketika berhadapan dengan binatang buas dan dalam keadaan p3rang. Sah shalat seseorang meskipun menghadap ke arah mana saja asalkan dua syarat tersebut dimilikinya. Misalanya ada binatang yang berbahaya di dekat kita sedangkan kita hendak melaksanakan shalat maka wajib baginya shalat tetapi tidak wajib baginya menghadap kiblat. Adapun untuk shalat dalam p3rang maka boleh pula menghadap kemana saja memungkinkan. Untuk keadaan berp3rang, rukun seperti ruku’ sujud dan sebagainya hanya diisyaratkan atau qashadkan saja dalam hatinya tanpa wajib melakukan gerakan seperti biasa pada keadaan aman. Shalat yang seperti ini dikenal dengan shalat dalam keadaan ketakutan. Adapaun shalat orang yang dalam keadaan ketakutan tidak wajib qadha padanya. Artinya meskipun pada lain waktu dia mendapatkan keadaan yang tidak dalam ketakutan maka tidak wajib mengqadha padanya akan shalat dalam ketakutan tadi.

Untuk orang yang berada pada suatu tempat yang tidak diketahui arah kiblat maka wajib baginya ijtihat tentang arah kiblat. Arah kiblatnya adalah arah dimana menimbulkan keyakinan padanya sekurang-kurangnya adalah dhannya setelah berijtihat. adapun untuk orang yang berada pada atau dalam kendaraan maka wajib baginya untuk berhenti karena tidak sah shalat wajib dikerjakan dalam kendaraan tanpa menghadap kiblat. Contoh orang yang dalam pesawat, kapal laut, perahu, kereta api dan lain-lain. Namun demikian, untuk menghormati waktu maka laksanakanlah shalat baginya tetapi pada lain waktu wajib qadha baginya. Apa guna shalat hormat waktu? Kegunaannya adalah apabila seorang itu wafat sebelum mengqadha shalatnya yang menghormati waktu maka shalatnya tidak akan dipertanyakan pada hari akhirat. Keadaan seperti ini masih diperhitungkan apabila si Fulan tidak melalaikan waktu dalam mengqadha shalatnya.

Kiblat pada shalat sunat

Pada shalat sunat juga berlaku sebagaimana shalat dalam keadaan ketakutan seperti yang dijelaskan di atas tadi. Sebagai tambahannya, boleh pula tidak mengahadap kiblat pada shalat sunat bagi seorang yang musafir. Sekurang-kurangnya musafir yang boleh untuk melalukan hal ini adalah sejauh tidak terdengar lagi azan kampunya. Azan yang kita bicarakan di sini adalah azan yang tidak menggunakan pengeras suara. Pada pendapat yang lemah itu dikatakan bahwa perjalanan itu sekira 1 mil atau umpanya 1 mil.

Adapun tata cara shalat sunat dalam kendaraan itu adalah sebagaimana memungkinkan untuk shalat. Jika memungkinkan misalnya seorang yang shalat di atas kendaraan berupa unta yang memiliki tempat sujud maka boleh sujud akan dia pada tempat tersebut tetapi pada kendaraan yang tidak memungkinkan untuk ruku’, sujud atau duduk maka seorang itu hanya wajib mengisyaratkan geraknya di dalam shalat.

Adapun untuk shalat yang dalam perjalanan yang tidak memakai kendaraan yaitu seorang yang musafir dengan perjalanan kaki maka yang wajib baginya menghadap kiblat hanya pada 4 tempat yaitu (1) takbiratul ihram, (2) ruku’, (3) sujud dan (4) duduk antara dua sujud. Dan tidak boleh seorang yang mengerjakan shalat sunat dalam perjalanan kaki berjalan pada segala rukun shalat kecuali pada (1) berdirinya, (2) ‘itidal (3) tasyahud dan (4) salam. Artinya bahwa boleh shalat sambil berjalan pada rukun shalat berdiri, ‘itidal, tasyahud dan salam.  Keadaan ini hanya berlakuk pada shalat sunat tidak pada shalat wajib. Begitulah dijelaskan dalam kitab kuning Mathla'ul Badrain.

0 Response to "Makna Menghadap Kiblat di Dalam Syarat Sah Shalat"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.