Tata Cara Dan Kapan Sujud Sahwi Dilakukan Lengkap Dengan Bacaannya

Lupa merupakan sifat semua manusia tanpa ada kecuali. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melupakan hal-hal yang sudah kita ingat bahkan yang baru saja kita ucapkan. Itu semua memang sudah kodrat semua manusia. Tidak terkecuali di dalam shalat, manusia sering lupa dalam mengerjakan rukun-rukun shalat dan sunat-sunat dalam shalat. Jangankan orang yang jarang mengerjakan shalat bahkan orang yang tidak tinggal shalatnya pun akan mengalami yang namanya lupa. Jadi ketika seorang yang lupa dalam shalatnya tidak bisa kita vonis bahwa dia jarang mengerjakan shalat dan begitu pula orang yang tidak lupa dalam shalat maka tidak boleh kita memvonis dia orang yang rajin shalat.

Ketika orang yang mengalami lupa dalam shalat seperti meninggalkan sunat aba’ad, ragu-ragu, dan hal lupa lainnya maka sunat baginya untuk melakukan sujud sahwi. Sunat aba’ad dalam shalat seperti qunut, tahyat awal dan lain sebagainya. Jika seorang lupa mengerjakannya maka sunat baginya untuk sujud dua kali yaitu sujud sahwi. Berbeda jika seorang lupa rukun, maka total shalatnya tidak sah. Akan tetapi jika seorang lupa rukun misalnya lupa sujud lalu dia ingat ketika masih di dalam shalat maka wajib baginya menyempurnakan 1 rakaat lagi dan diikuti pula dengan sujud sahwi. Sujud sahwi tidak dapat menggantikan rukun tetapi dapat mengantikan sunat. Adapaun tujuan sujud sahwi karena lupa rukun adalah untuk lupa yang kita alami. Nanti akan kami jelaskan kenapa harus sujud.
Tata Cara Dan Kapan Sujud Sahwi Dilakukan Lengkap Dengan Bacaannya
Sujud Sahwi

Lantas, kenapa kita sering sekali mengalami lupa dalam shalat? Bahkan orang yang rajin shalat atau orang yang sudah alim sekalipun bisa mengalami lupa. Hal ini merupakan godaan syaithan. Bukankah pernah syaithan berjanji untuk mengoda ummat manusia untuk menjadi kawan kerabatnya di dalam neraka. Salah satu usahanya adalah dengan menggoda orang yang shalat. Untuk orang yang berilmu akan tahu bagaimana cara mengatasi hal ini maka bagaimana orang yang tidak berilmu, mereka lah sasaran empuk syaithan. Gangguan syaithan di dalam shalat memang sudah dijelaskan oleh Easulullah SAW. seperti berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya." (Shahih bukhari nomor: 573)

Selengkapnya : Mengapa Kita Sering Lupa dalam Shalat?

Nah, jelas sekali dalam hadits tersebut kenapa kita harus mengumandangakn azan yaitu untuk mengusir para setan laknatillah yang sering mengganggu kita di dalam shalat sehingga menyebabkan sering lupa dalam shalat. Jadi salah satu ciri-ciri setan laknatillah adalah yang alergi terhadap azan, yang merasa terganggu dengan azan dan panas ketika hendak mendengar azan. Mereka selalu mencoba memadamkan lantunan merdu azan agar mereka bebas melangang-lenggok di atas muka bumi dengan kemaksiatan dan kezaliman.

Apakah ada hadits sebagai dasar hukum yang menjelaskan sujud sahwi? Ada, hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim seperti bunyi berikut ini,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ أَصَدَقَ هَذَا قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

“Sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat ashr, kemudian beliau salam pada rokaat ke-3 kemudian masuk rumahnya, maka bangkitlah seseorang yang disebut al-Khirbaaq yang memiliki tangan panjang. Maka ia berkata: Wahai Rasulullah…kemudian disebutkan apa yang dilakukan Nabi. Maka beliau kemudian keluar (seperti terlihat marah) menarik selendangnya sampai (di hadapan) manusia. Kemudian beliau bertanya: ‘Apakah lelaki ini benar?’Para Sahabat menjawab: ya. Maka kemudian Nabi sholat satu rokaat, kemudian salam, kemudian sujud 2 kali sujud, kemudian salam” (H.R Muslim).

dan Rasulullah bersabda pula,

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَنَظَرْنَا تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ قَبْلَ التَّسْلِيمِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ثُمَّ سَلَّمَ

“Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat bersama kami 2 rokaat, kemudian bangkit tidak duduk (tasyahhud). Maka manusiapun turut berdiri bersama beliau. Ketika menyelesaikan sholatnya dan kami menunggu salam, beliau bertakbir sebelum salam kemudian sujud dua kali sujud dalam keadaan duduk, kemudian salam”(Muttafaqun ‘alaih).


Tata cara sujud sahwi


Sujud sahwi berbeda dengan sujud tilawah, sujud sahwi dilakukan pada rakaat terakhir sebelum salam. Pada saat anda sudah selesai membaca “fil ‘alamiinainnaka hamidummajiid” atau doa setelah itu maka pada sat itulah sujud dua kali dilakukan. Pada sa’at melakukan sujud dua kali, boleh mengucapakn takbir atau tidak namun lebih baik dengan takbir. Pada sujud yang pertama anda membaca

سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَيَسْهُوْ
SUBHAANA MAL-LAA YANAAMU WALAA YASHUU

Anda juga bisa membaca “SUBHANARABBIYAL ‘A’LAWABIHAMDIH” yaitu seperti bacaan sujud pada shalat bahkan anda boleh diam saja. Untuk sujud yang kedua anda juga membaca bacaan yang sama seperti pada sujud yang pertama. Pada saat duduk antara dua sujud sahwi anda tidak mebaca apa-apa hanya saja anda perlu tuma'ninah.

Sujud sahwi sesudah salam, apakah boleh?

Anda boleh melakukan sujud sahwi setelah melakukan salam dalam shalat anda dengan syarat anda tidak boleh beranjak dari tempat shalat anda dan atau anda tidak melakukan hal-hal yang membatalkan shalat seperti berbicara, makan, minum dan lain sebagainya.

Baca : Perkara-perkara yang dapat membatalkan shalat

Apa tujuan sujud sahwi?


Apakah ada tujuan tertentu untuk sujud sahwi itu? Kenapa kita harus sujud sahwi jika lupa atau ragu di dalam shalat? Ketahuilah bahwa itu merupakan sebuah penghinaan kepada syaithan dan akan membuat syaithan marah. Sebagaimana telah dijelaskan di atas tadi bahwa mengganggu manusia ketika shalat adalah kerjaan setan maka ketika kita melakukan sujud dua kali, itu adalah bentuk penghinaan terhadap mereka. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasululah SAW.,

…كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
“…dua sujud itu adalah penghinaan bagi syaitan (H.R Muslim).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًالأَِرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ

“.. Sedangkan jika ternyata shalatnya tepat empat rakaat, maka kedua sujud tersebut membuat marah syetan”

Kita selalu berusaha sekusyu’ mungkin dalam melaksanakan shalat tapi apalah daya kita hamba yang lemah. Semoga ulasan ini memberikan manfat kepada penulis dan pembaca. Aamiin.

0 Response to "Tata Cara Dan Kapan Sujud Sahwi Dilakukan Lengkap Dengan Bacaannya"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.