Perbedaan Batasan Aurat Laki-Laki dan Perempuan di Dalam dan Luar Shalat

Setiap laki-laki dan perempuan baik islam maupun non islam sudah pasti memiliki aurat. Aurat adalah bagian dari tubuh manusia yang wajib ditutupi dari pandangan orang lain dan diri sendiri baik di dalam sembahyang maupun diluar sembahyang dengan menggunakan kain. Hukum membuka atau menampakkan aurat kepada yang bukan hak adalah haram. Makna haram adalah berdosa apabila dikerjakan dan berpahala apabila ditinggalkan. Membuka aurat termasuk dosa besar yang akan mendapatkan azab pedih pada hari kiamat. Betapa banyak orang-orang sekarang membuka auratnya padahal mereka tahu bahwa itu hukumnya haram. Tidak hanya laki-laki bahkan perempuan termasuk orang yang membuka auratnya padahal aurat mereka sangat berbahaya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim, no. 2128]

Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan. bahwasanya aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya Al-Laisiy, no. 1626]
Perbedaan Batasan Aurat Laki-Laki dan Perempuan di Dalam dan Luar Shalat
Muslimah

Ada perbedaan aurat antara laki-laki dan perempuan baik dalam shalat maupun di luar shalat. Perbedaan ini akan kita bahas berdasarkan pada mazhab imam Syafi’I sebagaimana mayoritas orang Indonesia anut dan yang kami rangkum berikut ini adalah berdasarkan isi kitab mathla'ul badrain yang merupakan bagian dari mazhab Syafi’i.

1. Aurat laki-laki


  • Atara pusat dan lutut


Aurat laki-laki yang berlaku antara aurat dan lutut hanya pada tiga tempat yaitu 1. Di dalam Shalat, 2. Pada sesama laki-laki dan 3. Pada perempuan yang mahramnya. Seorang laki-laki yang shalat boleh hanya menutup antara pusat dan lutut. Perlu diperhatikan bahwa, seorang laki-laki wajib melebihkan kainnya di atas pusat dan di bawah lutut agar pada saat dia sedang shalat dan melakukan gerakan tidak terbuka auratnya.

Seorang laki-laki juga tidak boleh alias haram menampakkan aurat kepada sesama laki-laki, apalagi menampakkannya kepada seorang perempuan. Aurat laki-laki pada sesama laki-laki adalah antara pusat dan lutut. Apabila seorang laki-laki memperlihatkan auratnya atau melihat aurat laki-laki lain antara pusat dan lutut maka dosa baginya.

Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” [HR. Muslim, no. 338 dan yang lainnya]

Aurat laki-laki antara pusat dan lutut juga berlaku untuk perempuan yang mahram. Mahram adalah orang yang tidak halal dinikahi seperti adik, kakak, abang, ayah, ibu dan mahram-mahram lain. Halal menampakkan dada dan betis atau selain antara pusat dan lutut kepada orang-orang yang termasuk mahram.


  • Di luar Sembahyang


Aurat laki-laki pada perempuan yang bukan mahram menurut kitab mathla'ul badrain yaitu berdasarkan mazhab Syafi’I adalah seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya adalah seperti auratnya perempuan. Namun pada praktek sekarang adalah para laki-laki mentaklik hukumnya kepada mazhab lain yang membolehkan untuk tidak menutup seluruh tubuh. Yaitu tetap antara pusat dan lutut. Meskipun demikian, pokok mazhab kita yaitu mazhab Imam Syafi’i tetap tidak boleh membukanya.

2. Aurat qonsa

Qonsa adalah orang yang memiliki dua buah kelamin. Hukum aurat antara pusat dan lutut padanya yaitu pada 4 tempat : 1. Di dalam Shalat, 2. Pada laki-laki mahramnya, 3. Pada khalwatnya (sendirinya) dan 4. Pada segala perempuan. Adapun auratnya pada laki-laki yang bukan mahram maka seluruh tubuhnya pula menurut mazhab syafi’i.

3. Aurat perempuan

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

  • Di dalam Sembahyang

Pada mazhab syafi’I, aurat perempuan di dalam sembahyang itu adalah kecuali muka dan tapak tangan termasuk lahir dan batinnya yaitu telapak tangan dan bagian belakang telapak tangan. Artinya adalah selain muka dan telapak tangan maka di dalam shalat bagi wanita adalah aurat. Maka batallah shalat seorang wanita jika terbuka selain tangan dan muka. Termasuk di dalamnya sehelai rambut dan telapak kaki si wanita. Ketika seorang wanita yang shalat sedang berdiri maka memada menutup telapak kakinya dengan tempat berdirinya namun jika tampak pada saat sujud dan rukuk maka batal shalanya.

  • Aurat di luar sembahyang

Adapaun aurat wanita di luar sembahyang itu pada sekalian tubunya pada lelaki ajnabi yaitu laki-laki yang bukan mahramnya atau sering di katakana bahwa aurat wanita itu seluruh tubuhnya pada laki-laki yang halal untuk dinikahi (bukan yang sudah di nikahi yaa).

Adapaun aurat seorang wanita muslim pada wanita kafir yaitu pada bagian yang digunakan untuk bekerja. Seperti contoh bahwa seorang wanita itu perlu membuka muka, tangan dan telapak kakinya ketika bekerja maka bagian itulah yang disebut boleh menampakkan kepada wanita kafir. Sedangkan aurat untuk laki-laki kafir maka sama saja dengan aurat kepada laki-laki muslim yang ajnabi.
Adapaun bermula auratnya seorang perempuan muslim pada 1. Khalwatnya (sendirinya), 2. Pada sesama perempuan muslim dan 3. Pada mahramnya si perempuan maka auratnya adalah antara pusat dan lutut. Begitulah dijelaskan dalam kitab mathla’ul badrain.

Apabila seorang yang hendak melaksanakan shalat tetapi tidak mendapatkan kain maka boleh shalat dengan tel*njang. Atau jika dia mendapati kain akan tetapi kainnya bernajis dan tidak ada air untuk membasuhnya maka jika dia di tempat keramaian shalatlah dia dengan kain tersebut dan jika dia di tempat yang suci maka shalatlah dia dalam keadaan tel*njang. Akan tetapi wajib bagi orang tersebut untuk mengqadhanya ketika sudah memiliki kain atau air padanya.

Adapun apabila seorang itu berada pada tempat bernajis sedangkan kain yang ada padanya suci dan bersih dari najis maka wajib baginya untuk menggunakan kain tersebut sebagai tikar atau wajib baginya shalat di atas kain tersebut dan shalatlah dia dalam keadaan tel*anjang. Namun apabila seorang dalam keadaan tersebut menerima sedekah dari orang selembar kain atau pakaian maka tidak wajib baginya menerima lantaran akan ada bangkitnya yaitu akan disebut-sebut pada suatu saat (orang yang ria). Akan tetapi jika orang tersebut memberikan pinjaman untuk shalatnya maka wajib terima dan jika dia tidak menerimanya  maka tidak sah shalatnya.

Semua hukum yang kami jelaskan di atas adalah berdasarkan kitab yang bermazhab syafi’i dan telah dijelaskan oleh seorang ulama tentang isi kandungan dari kitab tersebut.

0 Response to "Perbedaan Batasan Aurat Laki-Laki dan Perempuan di Dalam dan Luar Shalat"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.