Syarat Sah dan Syarat Wajib serta Rukun Puasa

Diantara rukun islam, puasa adalah salah satu kewajiban yang wajib dikerjakan. Akan tetapi, diantara puasa yang wajib ada puasa sunat. Puasa yang wajib hanya dikerjakan pada bulan ramadhan saja sedangkan pada bulan yang lain dilaksanakan puasa sunat dan puasa qadha. Kewajiban puasa tidak hanya diperintahkan kepada ummat nabi Muhammad saja melainkan umat terdahulu juga berpuasa.kewajiban dan perintah puasa telah tertuang dalam kitab suci Al-quran sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(Q.s. Al Baqarah Ayat 183)

Tujuan utama puasa adalah membina umat manusia agar semakin bertaqwa. Selain itu, puasa mengajarkan kita untuk mengerti dan merasakan keadaan fakir-miskin, anak yatim, dan orang-orang yang melarat lainnya yang berada dalam keadaan kesusahan. Ketika berpuasa kita diperintahkan untuk  menjauhkan kemaksiatan, menahan hawa nafsu, menahan amarah, makan secara berlebihan, dan amalan mungkar lainnya sehingga ketika puasa telah selesai maka terbentuklah jiwa yang penuh dengan ketaqwaan. Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan sebelum berpuasa yaitu syarat wajib puasa, syarat sah puasa dan rukun puasa. Mari kita ulas satu persatu.
Syarat Sah dan Syarat Wajib serta Rukun Puasa
Puasa

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib adalah hal yang wajib diperhatikan sebelum berpuasa. Jika salah satu yang tersebut dibawah ini tidak dimiliki oleh anda maka tidak wajib bagi anda untuk berpuasa.

  • Beragama Islam
    Syarat wajib yang pertama adalah seorang itu beragama islam yaitu orang yang telah islam sejak lahir dan orang non muslim yang telah mengucap dua kalimah syahdat. Bagi orang-orang yang islam merupakan kewajibannya untuk berpuasa sebagaimana telah tertuang dalam rukun islam.
  • Baligh (telah mencapai umur dewasa)
    Baligh adalah batasan usia seorang itu telah beranjak dewasa. Orang yang telah baligh (sampai umur) maka hukumnya wajib mengerjakan puasa. Ada perbadaan antara batasan usia baligh laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah sedangkan untuk perempuan ditandai dengan datang bulan atau yang lebih dikenal haid. Untuk lebih jelas simak ulasan kami tentang usia baligh antara laki-laki dna perempuan.

    Baca : Usia Baliq laki-laki dan perempuan
  • Berakal
    Definisi berakal adalah puasa diwajibkan kepada orang-orang yang memiliki kewarasan akal kepadanya. orang 9ila dan anak-anak yang masih belum penuh akalnya maka tidak wajib puasa baginya. Untuk anak yang tergolong tamyiz maka puasanya sah. Jika seseorang yang tiba-tiba hilang akal (9ila) maka batallah puasanya.

  • Mampu untuk mengerjakannya
    Orang yang mampu dan sanggup mengerjakan puasa maka wajib berpuasa baginya. Orang yang tidak mampu adalah orang sakit, orang tua yang terlanjur lemah dan orang yang memang menurut syara’ dibolehkan tidak berpuasa karena ketidaksanggupannya.
  • Tidak musafir
    Orang yang sedang melaksanakan perjalanan jauh yang bukan untuk bermaksiat maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Akan tetapi jika si musafir tersebut mau berpuasa maka ada nilai tambah baginya untuk pahala tetapi puasanya tidak wajib. Jika dia sedang berpuasa Ramadhan maka dianjurkan untuk tidak berpuasa tetapi mengqadhanya pada bulan selain ramdhan. Musafir bukanlah hanya sekedar perjalanan. Ada syarat-syarat yang menentukan seorang boleh tidak berpuasa ketika bermusafir itu diantaranya mengenai tujuan, jarak tempuh dan lain sebagainya. Adapaun dalil membolehkan orang musafir untuk tidak berpuasa dan mengqadha puasanya dalah sebagai berikut.

    وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ 
    “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185).

Syarat Sah Puasa


  • Beragama Islam (seperti yang telah dijelaskan di atas)
  • Berakal (seperti yang telah dijelaskan di atas)
  • Tidak dalam haid, nifas dan wiladah (melahirkan anak) bagi kaum wanita
    Untuk orang yang haid, nifas dan wiladah maka tidak boleh baginya berpuasa. Kewajiban baginya mengqadha puasanya sebanyak jumlah hari yang tertinggal. Jika seseorang yang dalam keadaan berpuasa lalu datang haid ketika hendak berbuka maka puasanya tetap tidak sah. Jika seorang wanita habis masa haid pada malam hari dan dia tidak mandi hingga subuh tetapi pada malamnya dia berniat berpuasa maka sah puasanya.

    Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haidh dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqadha’ puasanya
  • Hari yang sah berpuasa
    Ada beberapa hari yang dilarang berpuasa yaitu dikenal dengan hari tasyrik. Tidak sah bagi seseorang yang berpuasa pada hari-hari ini bahkan mendapatkan dosa baginya.


Rukun Puasa


  • Niat mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan(puasa wajib) atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai daripada terbenamnya matahari sehingga terbit fajar. Untuk puasa wajib yaitu puasa bulaan Ramadhan, wajib bagi yang berpuasa berniat pada malam hari. Jika seorang itu tidak berniat pada malam hari maka tidak sah puasanya. Pada pendapat lain, agar puasa kita sah jika lupa berniat pada malam hari pada bulan Ramadhan maka berniat pada malam pertama untuk sebulan penuh. Akan tetapi dalam mazhab syafii tidak dibolehkan niat seperti ini karena puasa ramadhan bukanlah puasa sekaligus sebulan tetapi terpisah-pisah maka tidak boleh berniat sekaligus. Pada pendapat lain pula, boleh berniat untuk sebulan penuh tetapi selama dia ingat maka wajib baginya berniat dan jika lupa maka niatnya ditutup oleh niat pada malam pertama. Untuk puasa sunat maka boleh seorang itu berniat pada siang atau malam harinya.
  • Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari.
    Ada banyak sekali hal-hal yang bias membatalkan puasa. Hal ini akan kita bahas pada sesi berikutnya.
Baca : Hal-hal yang membatalkan puasa (dalam proses)

Sebagi tambahan, orang yang tidak berpuasa bukan karena ozor maka berdosa atau haram baginya untuk makan pada siang hari. Seorang yang tidak puasa tanpa ozor lalu dia makan pada siang hari maka mendapat dua dosa yaitu dosa tidak berpuasa dan dosa makan pada siang hari. Alasannya karena semua itu merujuk kepada hukum asal, dia wajib berpuasa tetapi tidak dilaksanakan maka wajib baginya untuk melaksanakan imsak yaitu tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari termasuk padanya makan dan minum. Bagi wanita haid, nifas, wiladah  tidak wajib baginya untuk melaksanakan imsak karena hukum asalnya adalah mereka tidak wajib berpuasa. Mereka boleh makan dan minum pada siang hari pada bulan Ramadhan tetapi tetap menjaga atau menghormati orang yang sedang berpuasa.

Tambahan lain adalah, bagi wanita hamil yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya maka boleh tidak berpuasa baginya akan tetapi wajib mengqadha puasa sebanyak jumlah hari yang dia tinggalkan. Jika seorang wanita hamil tidak berpuasa karena mengkhawatirkan kesehatan bayinya maka boleh baginya untuk tidak berpuasa pula akan tetapi wajib baginya mengqadha puasanya sebanyak hari yang dia tinggalkan dan wajib pula membayar fidya, begitulah pendapat para ulama.

Mungkin itu saja ulasan puasa kali ini, semoga memberikan manfaa kepada penulis dan pembaca. Wallahu ‘a’lam bissawaf.

0 Response to "Syarat Sah dan Syarat Wajib serta Rukun Puasa"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain