Perkara Yang Haram Dilakukan Ketika Berhadats Besar

Hadats dalam islam dibagi menjadi dua yaitu hadats besar dan hadats kecil. Contoh hadats yang kecil adalah orang yang tidak berwudhu sedangkan hadats besar adalah orang yang junub, haid, nifas, wiladah dan jenabah. Orang yang berhadats kecil menghilangkan hadatsnya dengan cara berwudhu dengan sempurna sedangkan cara menghilangkan hadats besar adalah dengan mandi dan membasuh seluruh anggota tubuh termasuk rongganya.  Sebelumnya telah kita bahas masalah alasan atau hal-hal yang menyebabkan mandi wajib maka kali ini akan kita bahas hal-hal yang haram dilakukan saat seorang sedang berhadats besar. Bisa saja seorang yang berhadats besar tidak langsung mandi sehingga wajib diperhatikan hal-hal yang terlarang dilakukan ketika itu. Ada beberapa hal yang haram dilakukan oleh orang yang sedang dalam keadaan berhadats besar. Perkara ini akan kita bahas satu-persatu sesai jenis amalan/ ibadah yang kita lakukan.

Baca juga : Hal yang mewajibkan seorang mandi besar
Perkara Yang Haram Dilakukan Ketika Berhadats Besar
Aturan dan tuntunan

Larangan bagi orang yang berhadats besar

1. Sholat
Shalat merupakan ibadah yang sering kita kerjakan dalam sehari 5 waktu. Ada beberapa syarat sah shalat yang telah kita bahas sebelumnya yang mana termasuk didalamnya suci dari hadats. Apabila seorang yang sedang berhadats maka haram baginya untuk shalat. Jika seorang hendak shalat sedangkan dia dalam keadaan berhadats besar maka mandilah terlebih dahulu kemudian berwudhu lalu shalat. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. An-Nisa’ 4 : 43).

Mungkin ada yang bertanya tentang wudhu setelah mandi wajib. Apakah wajib berwudhu setelah mandi besar. Untuk lebih lengkap silahkan anda baca ulasan kami tentang apakah wajib berwudhu setelah mandi besar.

Baca : Mengapa wajib berwudhu setelah mandi besar

2. Membaca, Menyentuh dan membawa mushaf atau Al-quran
Sebagai umat islam, Al-quran memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Allah memberikan pahala bagi siapa saja yang membacanya dengan benar. Akan tetapi pada keadaan tertentu malah haram untuk membaca menyentuh serta membawa al-quran / mushaf.  Kondisi yang dimaksud adalah kondisi dimana seorang sedang berhadats besar.

Di dalam kitab Sunan Imam At-Tirmidzi beliau menulis:
Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca sesuatu pun dari Al Qur’an.” Ia berkata; “Dalam bab ini ada juga hadits dari Ali.” Abu Isa berkata; “Hadits Ibnu Umar, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Isma’il bin Ayyasy, dari Musa bin Uqbah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Seorang yang junub dan wanita haid tidak boleh membaca Al Qur`an.” Ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tabi’in dan orang-orang setelah mereka seperti Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengatakan, “Wanita haid dan orang junub tidak boleh membaca sesuatu dari Al-Qur’an, kecuali ujung ayat, atau satu huruf, serta yang semisalnya. Namun mereka memberi keringanan bagi orang junub dan wanita haid untuk membaca tasbih (Subhanallah) dan tahlil (Laa Ilaaha Illalaah).”

Akan tetapi apabila seorang yang junub atau haid lalu membaca ayat Al-quran dengan niat bahwa ayat yang dibaca itu adalah doa atau zikir maka boleh baginya untuk membacanya. Begitu pula bagi seorang guru yang mengajarkan Al-quran maka boleh hukumnya membaca ayat Al-quran dengan niat zikir kepada Allah. Karena sangat banyak dasar hukumnya seperti berikut ini

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah 56 : 79).

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak ada yang boleh menyentuh al Qur’an kecuali yang telah bersuci.” (Daruquthni meriwayatkannya secara marfu’ dan Malik meriwayatkannya di dalam al-Muwaththa’nya secara mursal).

Apabila seorang yang sedang berhadats maka haram hukumnya untuk menyentuh lembaran kertas, kayu, batu dinding yang bertuliskan ayat-ayat Al-quran. Tidak hanya itu, haram pula hukumnya apabila seorang membacanya. Akan tetapi jika seorang menemukan ayat-ayat Al-quran berceceran sedangkan dia dalam keadaan berhadats maka wajib hukumnya dia memindahkan atau mengamankan ayat Al quran tersebut.

3. Thawaf
Tawaf adalah ibadah yang dilakukan di masjidil haram. Tawaf itu seperti shalat akan tetapi yang membedakannya adalah thawaf membolehkan kita untuk berbicara ketika mengerjakannya. Oleh sebab itulah kenapa tahwaf wajib hukumnya untuk suci dari hadats.

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Thawaf di Baitullah itu seperti shalat, hanya saja kalian dibolehkan berbicara. Karena itu, siapa yang berbicara dalam tawaf, berbicaralah yang baik saja.” (HR. Al-Hakim dan beliau menshahihkannya).

4. Diam di dalam masjid
Haram hukumnya bagi seorang yang sedang berhadats besar untuk berdiam dalam masjid. Masjid merupakan tempat yang suci dan mulia maka tidak boleh masuk ke dalamnya sedangkan kita dalam keadaan kotor. Akan tetapi boleh masuk masjid hanya sekedar lalu saja bagi orang yang junub. Berbeda hukumnya bagi orang yang haid, apabila seorang wanita dalam keadaan haid masuk ke dalam masjid dan dikhawatirkan akan jatuh darah haid ke dalam masjid maka haram hukumnya masuk masjid meskipun hanya sekedar lalu. Namun apabila seorang wanita tersebut mampu menegah/mencegah jatuhnya darah haid kedalam masjid se[erti memakai pempers atau semacamnya maka makruh hukumnya masuk ke dalam masjid. Firman Allah ta’ala:

Hal ini juga berdasarkan riwayat Abu Dawud dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Aku tidak menghalalkan masuk Masjid untuk orang yang sedang haid dan juga orang yang sedang junub. (HR. Abu Dawud).

5. Puasa bagi yang haid
Puasa terdiri dari puasa wajib dan sunat. Haram hukumnya bagi orang yang haid berpuasa baik puasa wajib maupun sunat. Meskipun pada orang haid tidak wajib mengqadha shalat akan tetapi wajib mengqadha puasa. Wanita haid wajib mengqadha puasa sebanyak yang dia tinggal. Apabila belum sempat mengqadha atau ada hal lain yang menimpa sehingga tidak bisa mengqadha maka wajib hukumnya membayar fidyah.

Bagi orang yang tidak puasa karena alasan haid atau musafir pada bulan ramadhan maka boleh baginya untuk makan pada siang hari akan tetapi tetap menjaga/menghormati orang yang sedang puasa. Berbeda dengan orang yang tidak puasa karena tidak ada halangan misalnya lupa niat atau memang sengaja ditinggal maka haram baginya untuk makan pada siang hari. Dalam bahasa singkat adalah bagi wanita haid tidak boleh mengimsakkan dirinya karena pada dasarnya dia tidak boleh puasa sedangkan orang yang sengaja tinggal maupun lupa niat maka wajib mengimsakkan dirinya karena pada dasarnya dia wajib berpuasa.

Berbeda penjelasan untuk orang yang junub. Apabila seorang yang junub pada malam hari maka boleh dan sah puasanya pada siang harinya. Sedangkan bagi yang junubnya pada siang hari dengan sebab-sebab disengaja maka batal puasanya. Mimpi bas4h tidak termasuk kedalam disengaja maka sah-sah saja puasa orang yang bermimpi pada siang hari atau setelah imsak.

Mungkin itu saja penjelasan tentang hal yang haram dilakukan ketika sedang dalam keadaan berhadats besar, semoga meberikan manfaat kepada penulis dan pembaca. Aamiin yaa rabbal 'aalamiin. wallahu a'lam bissawaf.


0 Response to "Perkara Yang Haram Dilakukan Ketika Berhadats Besar"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.