Hukum dan Tata Cara mengqadha Shalat Yang Telah Lalu

“Sholat Adalah Tiang Agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”, begitulah bunyi salah satu hadits yang populer tentang shalat. Shalat merupakan amalan pertama yang akan di hisab pada hari kiamat nanti. Baik dia seorang yang kaya maupun seorang yang miskin, baik dia orang pintar maupun pandir. Shalat sebagai tiang dalam agama memberikan ciri khas bagi pelaksananya sebagai hamba Allah yang muslim karena yang membedakan antara orang islam dan orang kafir adalah pada shalat/ sembahyangnya. Tapi apa jadinya jika shalat yang telah lalu kita tingalkan. Berapa dosa yang telah kita pikul karena dosa tidak melaksanakan shalat. Karena banyak sekali pada zaman sekarang ini orang yang meninggalkan shalat baik karena alasan kesibukan, lupa, sengaja, ozor, karena sakit, bahkan karena berhijrah sehingga harus mengqadha shalat yang telah tertinggal selama bertahun-tahun. Padahal melalaikan shalat itu adalah termasuk orang yang mendustkan agama alias musuh agama.

Baca Juga : 5 Orang Pendusta Agama
Hukum dan Tata Cara mengqadha Shalat Yang Telah Lalu
Qadha Shalat
Lantas bagaimana hukum mengqadha shalat? Adapaun hukum mengqadha shalat adalah wajib ‘ain yaitu kewajiban melaksanaakan bagi orang muslim yang baligh berakal yang tertinggal shalatnya. Tidak boleh seorang  mengqadha shalat orang lain dan begitu pula sebaliknya. Dasar hukumnya adalah sebagaimana hadits berikut ini :

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata. ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berrsabda, ‘Barangsiapa lupa shalat, hendaklah dia mengerjakannya ketika mengingatnya, tiada kafarat baginya kecuali yang demikian itu’. Lalu beliau membaca firman Allah. ‘Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'”. Dalam riwayat Muslim disebutkan. Barangsiapa lupa shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kafaratnya ialah mengerjakannya selagi mengingatnya”.

Maksud tidak ada kafarat adalah tidak adanya denda lain selain mengerjakan shalat kembali. Akan tetapi dosa karena meningalkan shalat yang sengaja tetap masih ada sebelum dia taubat.

Asy-Syafi’i berhujjah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat tertidur, pada waktu itu ketika selesai berperang, semua tertidur dan tidak ada yang bangun hingga matahari terbit lalu Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa tempat tersebut banyak jin. Sebenarnya itulah cara Allah untuk menampakkan cara qadha shalat. Mereka tidak melaksanakan qadha’ shalat di tempat mereka tidur. Tapi beliau memerintahkan agar mereka menghela hewan-hewan mereka ke tempat lain, lalu beliau shalat di tempat tersebut.

Dalam riwayat lain hadits riwayat  Muslim dari Abu Qatadah, mengatakan bahwa ia teringat waktu safar pernah Rasulallah saw. ketiduran dan terbangun waktu matahari menyinari punggungnya. Kami terbangun dengan terkejut. Rasulallah saw. bersabda: Naiklah (ketunggangan masing-masing) dan kami menunggangi (tunggangan kami) dan kami berjalan. Ketika matahari telah meninggi, kami turun. Kemudian beliau saw. berwudhu dan Bilal adzan untuk melaksanakan shalat (shubuh yang ketinggalan). Rasulallah saw. melakukan shalat sunnah sebelum shubuh kemudian shalat shubuh setelah selesai beliau SAW. menaiki tunggangannya.

Banyak sekali cara Allah mengajarkan kepada hambanya. Kisah ini menjadi dasar hukum qadha dalam shalat. Meskipun banyak diluar sana dari kalangan orang yang tidak berilmu bahwa qadha shalat itu tidak boleh ketahuilah bahwa Rasulullah saja pernah melaksanakan shalat qadha. Tidak hanya itu, pada kalangan ulama ahlusunnah membolehkan qadha shalat sebagaimana hadits tadi menjadi dasarnya.

Meninggalkan shalat karena ozor atau lupa berbeda dengan meninggalkan shalat dengan sengaja. Meninggalkan shalat dengan sengaja mewajibkan orang tersebut untuk segera mengqadhanya. Sebagai contoh apabila seorang sengaja meninggalkan shalat dhuhur kemudia habis waktu shalat maka pada waktu ashar wajib mengerjakan qadha shalat dhuhur yang dia tinggal. Dosa karena meninggalkan shalat tetap masih ada selama dia belum taubat. Berbeda dengan shalat yang tertingal karena ozor, baik itu karena lupa, tertidur dan lain sebagainya maka qadhanya tidak wajib disegerakan. Sebagai contoh orang tidur yang terlalu pulas hingga tertingal shalat maka tidak ada dosa baginya, hanya saja wajib hukumnya mengqadha dan tidak perlu untuk di segerakan. Akan tetapi jika dia wafat dalam keadaan shalat tersebut belum diqadha maka shalat itu tetap akan diperhitungkan pada hari kiamat. Untuk qadha shalat yang telah bertahun tahun maka segerakanlah mengqadhanya selagi nyawa masih di kandung badan karena tidak akan sanggup kita pertangungjawabkan dosa karena shalat.

Adapun untuk orang yang haid atau melahirkan maka tidak wajib baginya mengqadha shalat. Bagi mereka hanya berlaku qadha puasa sedangkan shalat tidak. Jadi jika ada yang pertanya tentang cara mengqadha shalat karena haid, beritakan kepada mereka bahwa shalat tinggal karena haid tidak wajib qadha. Bahkan makruh hukumnya mengqadha shalat karena haid pada pendapat yang kuat, adapaun pada pendapat yang dhaif (lemah) maka hukumnya haram.

Tata cara mengqadha shalat

Adapaun tata cara mengqadha shalat adalah dengan melaksanakan shalat yang tertinggal pada waktu yang lain dengan jumlah rakaat yang sama. Tidak ada perbedaan shalat qadha dengan shalat fardhu biasa, yang membedakan hanyalah lafadz dan niatnya saja. Sebagai contoh berikut ini :


  • Niat Qadha Shalat Dzuhur

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli Fardhad zhuhri arba'a raka'aatin mustaqbilalqiblati qadhaa an lillaahi ta'aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardu zuhur 4 rakaat, menghadap qiblat, Qadha , karena Allah Ta'ala.

  • Niat Qadha Shalat Ashar

اُصَلِّيْ فَرْضَ اْلَعَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli Fardhal 'asri arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati qadhaa an lillaahi ta'aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardu ashar 4 rakaat, menghadap qiblat, Qadha, karena  Allah Ta’ala.

  • Niat Qadha Shalat Magrib

اُصَلِّيْ فَرْضَ اْلْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli Fardlal maghribi salaasa raka'aatin mustaqbilal qiblati qadhaa an lillaahi ta'aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardhu maghrib 3 rakaat, menghadap qiblat, Qadha, karena Allah Ta'ala.

  • Niat Qadha Shalat Isya

اُصَلِّيْ فَرْضَ الجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli Fardhal 'isyaa i arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati qadhaa an lillaahi ta'aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardu isya 4 rakaat, menghadap qiblat, Qhada, karena Allah Ta'ala.

  • Niat Qadha Shalat Subuh

اُصَلِّيْ فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ قَضَا ءً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli Fardhas subhi rak'ataini mustaqbilal qiblati qadhaa an lillaahi ta'aalaa.

Artinya : Aku sengaja melakukan shalat fardu subuh 2 rakaat, menghadap qiblat, Qadha, karena Allah Ta'ala.

Kesimpulan dari contoh di atas adalah tidak ada perbedaan lafadz dan niat shalat qadha kecuali pada ‘qadhaa a’ yang artinya ‘qadha’. Jika pada shalat fardhu hari biasa lafadznya adalah ‘ada a’ yang artinya ‘tunai’. Jika seseorang yang shalat dhuhur pada waktu ashar tetapi tidak mengucapkan qadha maka shalatnya tetap jatuh kepada qadha karena shalatnya bukan pada waktunya dan begitupula seterusnya.

Artikel terkait : Macam-macam rukun shalat fardhu dan penjelasannya

Adapun bermula Orang kafir yang masuk islam tidak wajib qadha baginya karena dia sudah bersih bagaikan bayi baru lahir. Sedangkan bagi orang yang murtad (keluar dari islam) kemudian masuk lagi Islam dan taubat maka wajib hukumnya mengqadha shalat yang telah lalu.

Demikian saja ulasan tentang hukum dan tata cara qadha shalat, semoga memberikan manfaat dan faedah. Jika ada kesalahan mohon dikoreksi dan jika ada yang belum paham silahkan ditanyakan. Kepada Allah kami berlindung dan kepada Allah pula kami memohon ampun. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin. Wallahu’a’lam bissawaf.

0 Response to "Hukum dan Tata Cara mengqadha Shalat Yang Telah Lalu"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain