Tata Cara Makmum Masbuk (terlambat) Ketika Shalat Berjamaah

Shalat merupakan kewajiban penting dan pokok dalam ibadah. Sehingga tidak menjadi heran kenapa shalat menjadi patokan beres atau tidaknya amalan kita pada hari kiamat. Shalat yang kita kerjakan terkadang adalah dengan sendiri atau secara berjamaah. Ketika shalat berjamaah, kita sebagai makmum wajib mengikuti gerakan imam dan dilarang mendahului gerakan imam serta menegur imam ketika dia salah dengan ucapan ‘Subhanallah’. Perlu diketahui bahwa, orang yang menegur imam dengan kalimat subhanallah wajib meniatkan dalam hatinya sebagai zikir sebagaimana imam meniatkan takbir sebagai zikir.

Dalam shalat pasti adanya terlambat baik disebabkan oleh kesibukan atau kesengajaan. Akan tetapi sebaiknya apabila mendengar azan maka langsung berangkat menunaikan shalat berjamaah dengan tidak terburu-buru karena Rasulullah SAW. Bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
Apabila kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan santai dan jangan terburu-buru. Yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah [HR. Al-Bukhâri, no. 636]

Maksud menyempurnakan shalat disini adalah apabila kita datang ke masjid lalu ternyata terlambat atau imam sudah melaksanakan shalat maka makmum tersebut disebut masbuk. Hampir setiap muslim di dunia ini mengalami yang namanya masbuk maka untuk itu dipandang perlu untuk dibahas perkara masbuk sebagai pedoman dalam kita melaksanakan shalat sehari-hari. Jangan sampai shalat yang kita kerjakan salah. Maka berikut ini perkara masbuk dalam shalat wajib dan sunat.
Tata Cara Makmum Masbuk (terlambat) Ketika Shalat Berjamaah
Shalat Berjamaah

Masbuk dalam shalat wajib merupakan masbuk yang terjadi ketika sedang mengerjakan shalat wajib sedangkan masbuk shalat sunat adalah masbuk pada saat kita mengerjakan shalat sunat secara berjamaah. Berbeda dengan masbuk shalat jumat, maka nanti akan kita bahas secara terpisah di akhir nanti.

Apabila seseorang yang hendak melaksanakan shalat berjamaah dan mendapati imam sedang berdiri pada rakaat pertama dan dia langsung takbir mengikuti imam maka rakaat tersebut masih dihitung dan tidak perlu diganti dengan rakaat lain setelah imam salam. Begitu juga apabila seorang makmum mendapati imam sedang ruku’ pada rakaat pertama dan dia langsung takbir serta mengikuti dan mendapatkan posisi bersamaan ruku’ bersama imam maka orang yang masbuk tersebut juga tidak perlu menambah atau mengganti raktaan atau fatihah rakaat pertama tersebut karena imam yang menanggungnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda:
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ مَعَ الْإِمَامِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ
Siapa yang mendapati satu raka’at shalat bersama imam, maka ia mendapati shalat. [HR. Muslim, no. 162). Hal ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Khuzaimah rahimahullah dalam Shahihnya no. 1595 dengan lafaz :

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ، فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ
Siapa yang mendapati satu raka’at shalat maka ia mendapati shalat sebelum imam meluruskan tulang punggungnya.

Juga berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam :
إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا، وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا، وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ
Jika kalian datang untuk shalat sedangkan kami sedang sujud maka sujudlah dan jangan menganggapnya satu raka’at, siapa yang mendapati satu raka’at maka ia mendapati shalat. [HR. Abu Dawûd, no. 896 dan dinilai sebagai hadits hasan oleh al-Albâni]

Hadits Abu Bakrah Radhiyallahu anhu berikut memperjelas masalah ini:
أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ حَدَّثَ أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَنَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَاكِعٌ، قَالَ: فَرَكَعْتُ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Sungguh Abu Bakrah telah menceritakan bahwa dia mendapati Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam dalam keadaan ruku’ lalu ia berkata, “Lalu akupun ruku’ sebelum sampai masuk ke shaf, kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda, “Semoga Allâh menambah semangatmu dan jangan mengulanginya’.”

Berbeda jika seorang makmum mendapati imamnya sedang ‘itidal, sujud, duduk antara dua sujud, tahyat awal dan lain sebagainya maka rakaat tersebut tidak dihitung lagi dengan kata lain si makmum wajib mengganti rakaat yang tertinggal tersebut setelah imam salam.

Pada rakaat ke-dua, apabila seorang mendapati imamnya sedang membaca surat alfatihah atau posisi berdiri pada rakaat ke-dua atau ke-tiga atau ke-empat maka dia wajib mengganti rakaat yang tertinggal. Akan tetapi posisi dia dalam berdiri bersama imam tersebut dihitung sebagai rakaat. Misalnya jika dia mendapati rakaat ke-dua maka dia mengganti satu rakaat. Jika dia mendapati rakaat ke-tiga bersama imam maka dia wajib mengganti dua rakaat setelah imam salam dan begitu pula rakaat empat maka dia wajib menggantinya sebanyak tiga rakaat. Perihal ini sama dengan ketika makmum menjumpai imam dalam keadaan ruku’, maka simasbuk dihitung rakaat yang mendapati ruku’bersama imam. Kesimpulannya adalah, batas untuk mendapati rakaat bersama imam itu adalah saat ruku’ sedangkan pada ‘itidal atau seterusnya maka tidak di hitung lagi.

Adapun jika makmum mendapati imam dalam keadaan ‘itidal, sujud, duduk antara dua sujud, tahyat akhir maka makmum wajib hukumnya mengganti sebanyak empat rakaat. Karena dia tidak mendapati ruku’ bersama imam pada rakaat terakhir tersebut. Seperti yang dikatakan di atas tadi bahwa batas untuk rakaat itu ruku’ selebihnya tidak dihitung kita mendapati rakaat tersebut.

Adapaun bermula shalat jumat itu berbeda halnya dengan shalat biasa. Jika shalat biasa misalnya shalat isya kita dalam keadaan masbuk maka kita menggantinya sebagai shalat isya. Lain halnya dengan shalat jumat, jika kita ketinggalan dua rakaat maka setelah imam salam, kita mengerjakan shalat dhuhur tanpa berniat atau mengulang shalat, dengan kata lain kita langsung melanjutkan shalat menyempurnakan 4 rakaat shalat dhuhur. Misalnya makmum masbuk pada rakaat pertama mendapati imam sudah sujud maka dia wajib membina 1 rakaat lagi shalat setelah imam salam. Shalat yang dikerjakannya adalah shalat jumat dengan melanjutkan shalat jumat tadi tanpa salam. Bagitu juga dengan rakaat kedua maka dia wajib membina rakaatnya. Akan tetapi rakaat yang dibina adalah 4 rakaat dan yang dikerjakan tersebut menjadi shalat dhuhur. Kenapa demikian? Kewajiban shalat jumat untuk berjamaah adalah 1 rakaat. Untuk perkara batasan rakaat sama halnya dengan yang diuraikan di atas yaitu pada saat ruku’

Artikel terkait : Orang yang paling layak menjadi Imam shalat

Demikian ulasan pada hari ini semoga memberikan manfaat, jika ada pertanyaan silahkan berkomentar atau mengirimkan pesan melalui form yang telah kami sediakan. Semoga amal ibadah dan apa yang kita uraikan ini mendapatkan ridha dari Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

0 Response to "Tata Cara Makmum Masbuk (terlambat) Ketika Shalat Berjamaah"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.