Adab Istinja' (Buang Air besar dan Kecil) dalam Islam Beserta Dalilnya

Bersuci merupakan pokok dari ibadah, tanpa bersuci ibadah tidak akan diterima Allah. Istinjak merupakan bagian dari bersuci. Istinjak adalah bersuci atau menghilangkan kotoran yang keluar dari salah satu dua jalan yaitu qubul dan dubur. Contohnya kencing dan berak, meskipun yang keluar bukan dalam bentuk yang biasa atau bukan dalam keadaan yang biasa contohnya yang keluar dalah benda-benda lain maka wajib hukumnya untuk bersuci. Adapun cara menyucikannya adalah dengan air yang suci lagi menyucikan atau dengan 3 buah batu.



Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
 “Artinya : Apabila salah seorang di antara kamu pergi ke tempat buang hajat besar, maka bersihkanlah dengan menggunakan tiga batu karena sesungguhnya dengan tiga batu itu bisa membersihkannya” [Hadits Riwayat Ahmad VI/108, Nasa’i no. 44, dan Abu Dawud no 40. Dan asal perintah menggunakan tiga batu ada dalam riwayat Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu hadits no. 155]

Baca Juga : Macam-macam air dan pembagiannya dalam ilmu fiqih

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dia berkata.
 “Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat buang hajat lalu saya dan seorang pemuda sebaya saya membawakan satu bejana dari air dan satu tombak kecil lalu beliau beristinja (bersuci) dengan air itu” [Hadits Shahih Riwayat Bukhari no. 151 dan Muslim no. 271]
Adapaun benda-benda licin seperti kaca, kertas atau tisu, daun atau kayu, dan lain sebagainya selain air dan batu maka tidak sah hukumnya untuk di gunakan bersuci. Penggunaan batu sebagai alat bersuci tidak sah apabila memiliki air yang cukup. Dan tidak sah pula istinjak atau bersuci menggunakan makanan karena barang terhormat dan bersifat mubazir.
Adab Istinja' (Buang Air besar dan Kecil) dalam Islam Beserta Dalilnya
Logo WC

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk mencari batu guna keperluan bersuci beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ

“Jangan engkau datangkan untukku tulang dan jangan pula rautsah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 155)

Di waktu yang lain, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah diminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari tiga batu untuk bersuci. Namun, ia hanya mendapatkan dua batu, sehingga ia mengambil rautsah lalu diserahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu mengambil dua batu tersebut dan membuang rautsah, seraya berkata, “Ini adalah kotoran.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 156)

Adab buang air besar dan kecil

Sebagaimana tuntunan dalam islam bahwa setiap hal yang kita lakukan wajib memiliki adab. Ada adab makan, minum, berbicara, mandi, dan lain sebagainya, maka begitu pula istinjak memiliki adab.

1. Membaca doa masuk dan keluar WC
Doa yang merupakan kunci keselamatan dari setiap hal karena tidak ada daya upaya semua insan dan makhluk kecuali dengan pertolongan Allah.

hadits riwayat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan masuk WC membaca do’a.

Doa Masuk WC

اَللّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَا إِثِ
Allahumma innii a’uudzu bika minal-khubusyi wal-khabaaisyi.

“Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syaithan laki-laki dan syaithan perempuan” [Hadits Riwayat Bukhari no.142,5963 dan Muslim no.375]

Kamar mandi merupakan tempat yang disukai setan dan jin, menurut hadist yang diriwayatkan berikut,

"Sesungguhnya tempat-tempat buang hajat ini dihadiri (oleh para setan), maka jika salah seorang dari kalian hendak masuk kamar mandi (WC), ucapkanlah “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” [HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim]

Adapun doa Keluar WC adalah sebagai Berikut
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَذْهَبَ عَنّى اْلاَذَى وَعَافَانِىْ

Segala puji milik Allah yang telah menghilangkan kotoran dari badanku dan yang telah menyejahterakan.

2. Jangan di tempat yang terbuka
Tempat yang terbuka merupakan tempat umum yang sering di lewati orang-orang. Selain itu, tempat yang terbuka memberikan makna bahwa aurat kita terpampang kemana-mana. Selain memberikan dosa kepada yang buang hajat juga akan memberikan dosa kepada yang melihat. Maka oleh sebab itu, buang airlah di tempat yang tertutup.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”

3. Mendahulukan kaki kiri ketika masuk kedalam kaskus/ wc/ toilet dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar
Mendahulukan kaki kiri ketika masuk jamban atau wc dan keluar dengan kaki kanan merupakan adab dalam buang air. Karena wc merupakan tempat yang kotor dan merupakan tempat para syaithan.

4. Jangan berbicara atau bercakap-cakap kecuali dalam keadaan terpaksa
Ketika berada dalam wc atau toilet, jangan berbicara atau bercakap-cakap kecuali dalam keadaan darurat. Ini merupakan adab dalam buang air kecil maupun air besar.
Dalilnya adalah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

“Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya.”

5. Jangan membaca dan membawa kalimat alquran kecuali doa
Haram hukumnya membaca atau membaca ayat-ayat alquran atau berzikir di dalam wc atau kaskus. Akan tetapi pendapat sebagian ulama mengatakan boleh membaca doa dalam wc, hanya doa saja bukan yang lain, contohnya doa istinja'.

6. Jika buang hajat di tempat yang terbuka maka jangan menghadap atau membelakangi kiblat
Membuang hajat haram menghadap kiblat atau membelakangi kiblat. Menghadap kiblat apabila buang air kecil menghadap ke arah ka’bah atau ketika buang air besar menghadap ke ka’bah dan pengertian membelakangi adalah ketika buang air kita membelakangi arah ka’bah atau arah shalat. Jadi intinya menghadap atau membelakangi tetap saja haram. Akan tetapi, jika dalam jamban yang tertutup (bukan tertutup dengan kain, plastik, daun, papan, triplek dan sebagainya) maka boleh menghadap kemana saja. Jamban yang sesuai syariat itu adalah jamban yang benar-benar tertutup dan memiliki ketebalan dinding yang memadai yang sesuai syara’, jika tidak sesuai syara’ maka haram menghadap kiblat.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا ، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ ، فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى

“Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala.”[14]

Yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Namun kalau kita berada di Indonesia, maka berdasarkan hadits ini kita dilarang buang hajat dengan menghadap arah barat dan timur, dan diperintahkan menghadap ke utara atau selatan.

7. Jangan buang air di tempat yang airnya tergenang kecuali air yang dalam jumlah besar seperti danau/ tebat
Buang air di tempat yang tergenang merupakan larangan dalam buang hajat karena air ini bisa saja digunakan oleh makhluk Allah yang lain untuk minum atau bersuci, baik itu manusia atau hewan. Bisa saja hewan yang kehausan meminum atau orang yang sedang dalam perjalanan membutuhkan air baik untuk bersuci, wudhu dan lainnya. Selain itu, air itu bisa tercemar dan menimbulkan mudharat bagi manusia lain. Kecuali keadaan airnya dalam jumlah besar seperti danau dan sebagainya.
Dalilnya adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di air tergenang.”

8. Jangan buang air dalam lubang tanah atau sebagainya
Binatang atau hewan banyak membuat tempat persembunyian atau tempat tinggal dalam tanah atau kayu. Jika melihat ada lobang tanah atau lobang kayu maka jangan sekali-kali membuang hajat baik kencing maupun berak kedalamnya karena dapat mengganggu makhluk lain. Meskipun hanya seekor binatang maka wajib hukumnya menjaga karena mereka juga makhluk Allah yang membutuhkan kenyamanan hidup.

“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang (yang biasa digali oleh binatang sebagai tempat persembunyiannya).” (HR. Ahmad no. 19847 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih, 1/499)

9. Jangan buang air di tempat orang bernaung atau tempat orang lewat
Membuang hajat di tempat orang sering lewat menyebabkan jalan orang terganggu dan menimbulkan dosa karena terbuka aurat. Karena masih banyak orang yang menjaga pandangannya dari perbuatan mungkar. selain itu, buang hajat ditempat orang lewat membuat orang tidak nyaman dengan baunya apalgi melihat wujudnya.

قُوا اللَّعَّانَيْنِ. قَالُوا: وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

“Berhati-hatilah kalian dari dua hal yang dilaknat (oleh manusia).” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan dua penyebab orang dilaknat?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan yang biasa dilalui manusia[4] atau di tempat yang biasa mereka bernaung.” (Sahih, HR. Muslim no. 269)

10. Jangan istinjak dengan tangan kanan
Merupakan sebuah adab untuk beristinjak dengan tangan kiri, dimana kita makan menggunakan tangan kanan dan mencuci kotoran menggunakan tangan kiri. Lain halnya dengan orang yang sedang mudharat maka itu adalah pengecualian.

لاَ يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلاَ يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلاَءِ بِيَمِينِهِ

“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengannya setelah buang hajat.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 154 dan Muslim no. 267)

11. Jangan makan atau minum
Merupakan suatu yang sangat dilarang ketika istinjak yaitu makan dan minum. Makan dan minum tidak boleh kita lakukan ketika sedang buang hajat karena memang tidak adanya adab. Contoh lain lagi adalah merokok ketika buang air atau istinjak, perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak beradab yang harus dihindari dan dijauhi.

Demiakanlah adab dan tuntunan dalam beristinjak. Begitu rahmat dan mulianya Islam karena dari masuk dan keluarnya makanan pun diatur, masuk dan keluar wc pun diatur. Buang air saja diatur dalam Islam apaalgi yang lainnya. Sungguh Islam adalah Rahmatanlil’alamin. Semoga kita selalu dalam tuntunan dan bimbingan Allah SWT. Aamiin.

0 Response to "Adab Istinja' (Buang Air besar dan Kecil) dalam Islam Beserta Dalilnya"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link atau tautan dalam bentuk apapun;
4. Lain-lain