Syarat Sah Shalat Berjamaah dan Penjelasannya

Setiap shalat fardhu dan sunat dianjurkan untuk berjamaah. Hukum shalat berjamaah pada pendapat ulama berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain, ada yang mengatakan fardhu kifayah dan ada pula yang mengatakan sunat muakkad (sunat yang dikuatkan). Adapaun pendapat yang paling kuat adalah sunat muakkad. Shalat berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan shalat sendiri. Shalat berjamaah lebih tinggi 27 derajat. Seperti sabda Rasulullah SAW.

“Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian sebanyak 27 derajat” (Muttafaqun alaih)

Akan tetapi, shalat berjamaah memiliki perbedaan keuatamaan bagi laki-laki, jika laki-laki lebih utama shalat berjamaah di masjid sedangkan pada perempuan lebih utama di rumah baik sendiri apalagi berjamaah. Akan tetapi bukan artinya tidak boleh untuk perempuan untuk pergi ke masjid untuk shalat. Jika para perempuan ingin melaksankaan shalat berjamaah di masjid maka mintalah izin kepada suami terlebih dahulu bagi yang sudah menikah dan meminta izin kepada orang tua apabila belum menikah.
ka'bah sebagai arah shalat
Ka'bah sebagai Arah Kiblat Shalat

Hikmah lain dari shalat berjamaah adalah dapat menjalin kesatuan dan persatuan ummat, dengan demikian maka akan memeperkokoh agama dan menambah semangat untuk beribdah serta memperjuangkan agama Allah. Selain itu, ketika shalat berjamaah sudah tidak mengenal lagi pangkat, derajat, kedudukan dan jabatan sehingga munculnya ukhuwah yang luar biasa antara sesame umat.

baca juga : Orang yang layak menjadi imam shalat berjamaah

Dalam mengerjakan shalat berjamaah, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi. Adapun syarat-syarat sah shalat berjamaah itu  ada 6 perkara :

1.    Berniat mengikuti imam
Berniat mengikuti imam dilakukan sekalian dengan niat mengerjakan shalat. Niat untuk shalat berjamaah sama seperti shalat yang dilakukan sendiri hanya saja ditambahkan ‘makmum’ ketika berniat, kata makmum inilah yang ditambah. Jika makmum tidak mengucapkan makmuman maka tidak sah jamaahnya akan tetapi jika imam tidak mengucapkan/ berniat imam maka shalat jamaahnya tetap jalan namun pahala jamaah untuk sang imam tidak didapatkan. Boleh juga meniatkan mengikuti imam atau menjadi ma'muk setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Namun hal ini tidak berlaku untuk shalat jumat karena shalat jumat hukumnya wajib berjamaah.

2.    Mengetahui apa yang dikerjakan imam
Maksud mengetahui yang dikerjakan imam adalah mengetahui setiap gerakan imam. Dengan tujuan adalah agar makmum dapat mengikuti dengan baik shalat berjamaah. Tidak hanya rukun, tujuan mengetahui gerakan imam adalah ketika imam batal shalatnya maka makmum harus mengetahui bahwa imam sudah membatalkan shalatnya karena sesuatu hal yang menyebkan dia batal dalam shalat atau menjadi imam.

3.    Jangan ada dinding  atau penghalang
Tidak boleh mengikuti imam yang terhalang dinding kecuali perempuan dan itu hanya dinding kain dan sebagainya yang bisa terdengar suara. Boleh shalat berbatasan dengan dinding asalkan suara imam terdengar oleh makmum atau ada imam pembantu yang berada diantara mereka. Nah bagaimana shalat dimasjid bertingkat, apakah sah? Adapaun shalat dimasjid bertingkat maka syaratnya adalah wajib ada tangga untuk naik dan terdengar suara imamnya. Apabila tangga untuk shalat itu runtuh maka batal shalat jamaah shalatnya. Begitu juga shalat berjamaah di masjid sedangkan kita berada di tempat yang agak lebih tinggi, jika tangganya hilang atau dipindahkan maka batal jamaah shalatnya.

4.    Jangan mendahului dan melambatkan
Seperti yang disebut dalam hal yang membatalkan shalat, maka batal shalat makmum yang yang mendahului gerakan imam. Apabila gerakan itu dilakukan karena lupa maka segeralah kembali kepada keadaan semula. Dan juga tidak sah lagi berjamaah apabila makmum ketinggalan 2 buah rukun, oleh sebab itu jika gerakan imam agak cepat maka ikuti saja meskipun bacaan kita belum selesai karena semua itu adalah imam yang menanggungnya. Maka jangan pikir mudah menjadi imam. Adapaun semua itu hanya berlaku untuk rukun fi’il atau perbuatan.

5.    Jangan di depan imam
Dalam berjamaah, makmum tidak boleh berada didepan imam walaupun hanya satu tapak kaki bahkan satu langkah. Jika berada di depan imam maka tidak sah jamaahnya. biasanya jika shalat bejamaah posisi makmum agak ke belakang sebelah kanan tapi tidak terlalu jauh jika jamaahnya satu orang.

6.    Jarak iman dan makmum
Ada satu pendapat mengatakan bahwa Jarak antara imam dan makmum dan makmum dengan makmum yang terakhir adalah 300 hasta. Pada pendapat yang lain, shalat berjamaah masih boleh dilakukan apabila makmum masih bisa mendengar suara iman atau makmum masih bisa melihat imam dari jarak tersebut. Atau bahkan menggunakan pembantu imam.

7.    Jenis shalat
Pada satu pendapat mengatakan bahwa shalat makmum harus sesuai dengan shalat yang dikerjakan oleh imam. Jika shalatnya dhuhur maka makmum wajib berniat dhuhur dan jika ashar maka wajib berniat ashar, begitu seterusnya. Pada pendapat lain, tidak perlu imam shalat apa, yang terpenting adalah kita mengikuti imam. Sebagai contoh, kita tiba-tiba ingin mengikuti seseorang atau menjadikan seseorang sebagai imam. Bukankah kita tidak tahu dia sedang shalat apa? Maka boleh mengikuti dia walaupun berbeda shalat. Dan yang perlu diketahui bahwa si imam tidak mendapatkan pahala jamaah sedangkan makmum mendapatkan padaha jamaah tersebut.

Baca juga : Syarat menjadi imam shalat berjamaah

Demikain saja pebcerahan hari ini, semoga bermanfaat hendaknya. Bagi pembaca jangan lupa mencari guru atau pengajar yang dapat menjelaskan ulasan kami di atas sehingga tidak ada kesalah pahaman antara penulis dan pembaca. Dengan mengucapkan Alhamdulillah semoga kita mendapatkan ridah dari Allah SWT. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

0 Response to "Syarat Sah Shalat Berjamaah dan Penjelasannya"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.