Tidak Apa-apa, Yang Penting Sekolah

Baju Ajaib

Tahun 1998 merupakan awal aku masuk Sekolah Dasar Desa Trieng Meuduro Tunong Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan dan  belum masuk TK bahkan aku tidak tahu apa itu Tk. Meskipun aku tidak tahu apa itu TK, aku tetap mendengarkan cerita kawan betapa serunya di TK itu. Jarak Sekolah Dasar dengan Rumah hanya 100 Meter, hmmm lumayan dekat. Sewaktu Sekolah Dasar, aku hanya memiliki 1 (satu) pasang  baju seragam merah putih dan 1 pasang baju pramuka, dari kelas I sampai kelas VI. Tidak ada baju baru dan tidak ada baju pengganti, senin sampai sabtu baju itulah yang aku pakai. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun baju itu masih utuh meskipun sedikit sobek pada bagian kantong. Dari kelas I sampai kelas VI, baju itu masih saja muat, entah badan aku yang tidak kunjung tumbuh atau bajunya yang Ajaib.

Belum termasuk baju olahraga, aku memakai baju kakak yang waktu itu sudah menduduki bangku SLTP (sekarang SMP). Ya... ukurannya bisa dikira-kira, muat tiga orang seukuran aku. Hmmmm yang penting ada.

Begitu banyak tragedi yang terjadi di bangku Sekolah Dasar, mulai dari Konflik di Aceh yang semakin berkecamuk dan Tsunami yang meluluh-lantak dan meratakan Aceh. Musibah dan teguran yang diberikan Yang Maha Kuasa.

Sepatu Aladin

Masuk SLTP, Jarak sekolah dengan rumah semakin jauh. Tidak terlalu jauh kawan, hanya 500 meter dan lumayan dekat untuk di tempuh dengan berjalan kaki. Naik tingkatan berarti naik uang jajan, jika SD 500 rupiah maka SLTP 1000 rupiah. Cukup untuk membeli satu kue dan satu gelas air mineral.

Baju seragam sudah berganti, akan tetapi sepatu sudah tembus pandang dari kiri ke kanan. Tidak ada rasa malu memakai sepatu robek saat itu, karena masih ada beberapa orang bernasib sama. Setelah beberapa bulan menikmati sepatu tembus pandang, Ibu membeli sepatu baru. Tak tanggung-tanggung, Ibu membeli sepatu tahan lama, Sepatu Aladin. Sepatu Aladin itu sepatu yang lebih besar dan lebih panjang dari pada ukuran kaki. Alasan ibu agar bisa pakai sampai SMA. Ah ya sudahlah aku pakai saja walaupun banyak ejekan kawan sekolah. Yang penting sekolah.

Yang penting sekolah

Usia semakin berlanjut, sekolah sekarang menuju ke SMA. Naik lagi tingkatan, naik uang jajan, yang pasti semakin jauh jarak tempuh untuk ke sekolah tiap pagi. Tidak terlalu jauh kawan, Cuma 2 kilometer saja. Jika aku naik becak, dengan uang jajan 2000 rupiah maka sudah habis untuk ongkos becak, jadi aku putuskan untuk berjalan kaki saja. Sesekali kalau lagi beruntung atau ada yang berbaik hati dikasih tumpangan gratis. Kalau tidak ada maka aku pergi dan pulang berjalan kaki dan yang pasti masih memakai sepatu Aladin. Bedanya sedikit, sesekali kerikil yang iseng masuk dari sol sepatu. Tapi tidak apa-apalah, yang penting sekolah. Soal sepetu nanti kita fikirkan.

Masa kelas X dan pikiran belum berpikir telalu jauh, menjalani sekolah seadanya, menikmati lingkungan baru dan yang pasti cita-cita yang masih belum jelas. Sebenarnya bukan tidak berani bermimpi hanya saja mimpi hanya sekedar mimpi.

Menginjak kelas XI, mulai memasuki masa-masa sulit. Banyak hal yang pahit terjadi dimasa ini, namun aku memilik tidak menceritakan beberapa hal itu. Sebenarnya bukan tidak mau menceritakan tapi akan kita ceritakan dilain waktu saja. Masa-masa sulit itu terutama masalah keuangan, semakin hari semakin banyak fotocopy bahan belajar, semakin banyak iuran kelas, semakin banyak semua pokoknya. Mau minta sama orangtua, untuk biaya kuliah kakak saja susah, terpaksa uang jajan yang kadang ada kadang tidak itu dicicil. Tidak apa-apalah tidak jajan, tidak apa pulang jalan kaki walaupun panas yang penting sekolah.

Kadang uang cicilan jajan saja tidak cukup, harus mengambil alternatip lain, ngutang sama kawan. Dari pada tidak ada fotocopy, tidak biasa belajar plus tidak tahu apa-apa pas ujian, nanti dicicil lagi dan yang penting sekolah.

Tidak lama setelah itu, aku harus mendengar berita pahit dari keluarga dan orangtua, aku diponis menganggur setelah tamat SMA hingga kakak selesai kuliah, itupun kalau ada biaya. Aku tidak tahu harus berkata apa, kata-kataku tersendat dan aku harus mengerti dengan keadaan.

Keadaan semakin rumit, kawan-kawan yang berjalan kaki ke sekolah semakin sedikit karena mereka kini sedikit berjaya lantaran ada tambang emas di desa sebelah. Aku juga ikut menambang dalam penambangan yang penuh resiko itu, tapi Allah belum memberikan rezki-Nya waktu itu. Semakin hari semakin sedikit yang berjalan kaki, kawan tidak ada lagi dan aku mencoba untuk bersepeda, sepeda mini, iya mengendarai sepeda kakak aku, sepeda perempuan yang rantainya sering lepas itu. Spesifikasinya : Rantai sering lepas, Kayuhnya tidak boleh berhenti atau sepeda akan berhenti (lahar error), rem harus pakai kaki (menggunakan sandal/sepatu), tambah suara penutup ban yang terbuat dari seng, lengkap pokoknya. Tapi akhirnya aku putuskan untuk berjalan kaki lagi. Berjalan kaki sendiri sekarang, tidak apa-apa yang penting sekolah.

Jujur aku butuh kendaraan, sebenarnya bukan hanya karena aku sekolah tapi karena sedih melihat ayah menumpang kendaraan orang tiap pagi setidaknya aku bisa antar jemput ayah bekerja walau hanya dengan sepeda motor butut mengingat jarak tempuhnya yang sangat jauh. Belum lagi aku membayangkan betapa beratnya beban batu tambang yang di pikul ayah menggunakan bahunya yang sudah lusuh dari puncak gunung hingga tempat penggilingan. Belum lagi isinya cuma sedikit sedangkan kebutuhan banyak.

Hari berganti dan berlalu, aku pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama terik matahari. Kalau ada uang aku membeli air minum sebelum berangkat kalau tidak ada nikmatin saja, yang penting sekolah, begitulah yang selalu terbesit di benak aku. Karena butuh kendaraan untuk operasional keluarga, antar jemput ayah, pulang dan pergi sekolah, kami sepakat untuk mencari uang untuk membeli sebuah sepeda motor Supra. Itulah sepeda motor pertama kami. Dengan adanya kendaraan tadi, sekarang ayah sudah aku antar jemput dan aku bisa pulang ke rumah dengan cepat.

Ujian akhir sudah selesai guru-guru menawarkan undangan dan tempat kuliah. aku menolak, aku masih ingat permintaan orangtua yaitu untuk menganggur hingga ada biaya. Beberapa guru sempat kecewa karena aku tidak kuliah tapi aku tetap tidak kuliah. Setelah tamat sekolah aku ikut ayah menambang emas. aku gunakan sepeda motor supra tadi untuk menambang dan mendaki gunung yang menjulang. Setidaknya ayah tidak berjalan kaki mendaki gunung dan tidak memikul lagi batu tambang.

Tidak berjalan mulus, beberapa kali kami bawa pulang batu tapi isinya nihil, tidak ada emas sedikitpun. Bensin semakin sekarat sedangkan hasil tidak ada. Setelah melalui kepahitan itu selama beberapa bulan, Tuhan kemudian memberikan rezki-Nya kepada kami. Dari sepeda motor supra yang aku sering gunakan untuk bekerja sekarang aku bisa membeli sepeda motor lain untuk aku kuliah nanti. Hingga pada kurun waktu setahun aku bekerja, aku melanjutkan kuliah dan menggunakan sepeda motor yang baru sebagai kendaraan aku kuliah, Alhamdulillah.

Setelah tiga semester aku kuliah, aku mendapatkan informasi bahwa ada dibuka tes untuk menjadi Abdi Negara. Aku mencoba menggali informasi dan mempersiapkan berkas apa saja yang di perlukan. Aku juga terus mempersipakan diri dengan belajar dan latihan siang malam. Berkat berjuang dan berdoa, Alhamdulillah aku lulus. Lulus menjadi Abdi Negara.

Sebenarnya aku bukan ingin memberitahu kawan-kawan bahwa aku adalah seorang penambang kemudian menjadi Abdi Negara, bukan. Yang ingin aku katakan adalah jangan menyerah, tetap semangat meskipun keadaan rumit dan tidak mendukung. Kita harus mengerti dengan keadaan dan menyesuaikan diri dengan kepahitan itu. Tetap berusaha, belajar dan berdoa untuk kehidupan yang lebih baik.

0 Response to "Tidak Apa-apa, Yang Penting Sekolah"

Post a Comment