Asal Mula Azan Dua-Dua Kali

Suatu lantunan yang luar biasa yang disebut Azan terus menggema disetiap penjuru dunia. Tidak hanya diwilayah muslim bahkan di daerah yang mayoritas non muslim juga ikut dikumandangkan oleh para muslim di tanah tersebut. Lantuna yang tidak ada perubahan dari waktu ke waktu itu dikumandangkan setiap hari dalam lima waktu shalat atau 5 (lima) kali dalam 24 (dua puluh empat) jam atau bahkan lebih.

Ada sebagian yang memang dalam shalat sunat juga dikumandangkan  lantunan adzan seperti pada shalat gerhana, shalat tarawih dan lain-lainnya. Namun, pada shalat yang lima kebanyakan di negeri islam terutama negeri kita indonesia selalu melantunkan adzan. Walaupun demikian, tidak dapat disangkal bahwa, seiring perjalanan waktu dan pergantian siang dan malam, ada sebagian daerah yang walaupun merupakan daerah indonesia yang masih tergolong negara islam ada yang sudah jarang mengumandangkan adzan setiap masuk waktu shalat atau sembahayang.

Baca juga : Syarat sah dan wajib shalat serta penjelasannya


Bagaimana kita menghadapi situasi seperti ini? yaitu dengan sosialisasi atau pengajian-pengajian untuk mempedalam pengetahuan agama di desa-desa dan surau-surau. Memberikan pendidikan agama kepada golongan masyarakat atau membangun suatu majelis ta’lim yang diselengggarakan dalam hari tertentu. Apakah ini penting, penting karena untuk membangun kembali marwah agama yang telah hilang ditelan globalisasi. Dimana adzan yang merupakan kebiasaan bahkan sunnah yang telah hilang agar kembali menggema dipelosok negeri kita.

Kaum muslimin yang berbahagia
Mungkin ada diantara kita yang ingin bertanya Apakah hal yang membedakan antara adzan dan iqamah? Bisa saja itu ada karena mungkin ada yang masih awam tentang dunia islam atau ada yang ingin kembali kejalan ilahi. Maka kini akan kita bahas permasalahan tersebut.

Sebenarnya tidak sulit untuk memebedakan antara adzan dan iqamah, dengan mendengarnya saja kita sudah tahu bahwa adzan itu diucapakan duakali-duakali (kecuali Allaahuakbar dan laailaahaillallah yang tearkhir). Tapi apakah ada perbedaaan yang lain? Ya, ada. Apakah itu? Berikut penjelasannya. Azan merupakan ucapan kalimat-kalimat tertentu untuk memberitahu waktu shalat telah tiba sedangkan iqmah adalah ucapan kalimat-kalimat tertentu yang menandakan bahwa shalat akan segera dimulai. Pada lantunan azan subuh, setelah lantunan HAYYALALFALAH, maka ditambah dengan ucapan ASSHALTUKHAIRUMMINANNAUM yang berarti bahwa shalat lebih baik dari pada tidur. Ini memberitahu atau menyeru kepada kita tentang kebaikan shalat. Selain dari pada itu, dalam ucapan iqamah adanya kalimat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan) '.yang diucapkan dua kali dan yang mana kalimat ini tidak di ucapkan dalam lantunan adzan.

Namun demikian, mengapa adzan diucapakan duakali-duakali, apakah ada hadist atau sabda rasul tentang ini? Tepat sekali, berikut adalah hadits yang menjelaskan tentang tuntunan adzan yang diajarkan Rasulullah SAW.

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ فَذَكَرْتُ لِأَيُّوبَ فَقَالَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Khalid dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata, Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat. Isma'il berkata, Aku sampaikan masalah ini kepada Ayyub, lalu ia berkata, 'Kecuali kalimat iqamat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan) '. (Shahih Bukhari nomor: 572)

Kaum muslimin seiman seagama yang dirahmati Allah swt.
Sesungguhnya adzan itu adalah lantunan yang luar biasa. Dimana banyak keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya. Mungkin dilain hari kita akan membahas lebih jelas tentang keistimewaan atau keutamaan adzan. Namun pada hari ini kita akan membahas sedikit tentang keutamaan adzan tersebut. Sebelum itu marilah kita lihat hadits berikut:
  
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya, Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat. Abu Sa'id berkata, Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. (Shahih Bukhari nomor: 574)

Nah saudara-suadaraku yang beriman. Sungguh sangat luar biasa lantunan adzan. Hadits di atas Memberitakan kepada kita, untuk mengeraskan suara adzan agar setiap orang yang mendengar adzan yang kita kumandangkan, baik itu manusia, jin, malaikat, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya akan menjadi saksi dihari kiamat. Bayangkan saja, berapa orang dimuka bumi ini yang dapat mendengar adzan kita, berapa jin, berapa hewan, berapa malaikat, berapa tumbuhan dan lain sebaginya yang akan naik saksi untuk kita nanti. Sungguh sangat luar biasa. Walau demikian ingatlah, IKHLAS adalah kuncinya. Mengapa harus ikhlas, kan begitu? Ikhlas adalah kunci segala pahala, karena sesuatu dilakukan tanpa ikhlas alias ria tau untuk mendapatkan pujian maka ibadah kita sia-sia. Ingat firman Allah :


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ 

 "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (QS. Al-Bayyinah Ayat 5)

Artikel terkait : Mengapa azan dua-dua kali

Bagaimana sahabat beriman, jelas bukan. Allah menganjurkan kita untuk beribadah secara ikhlas. Maka dari itu lakukanlah sesuatu itu dengan ikhlas tanpa pamrih atau mendapat pujian dari pulan atau siapapun itu.
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aaminn aamiin ya rabbal ‘alamiin.

0 Response to "Asal Mula Azan Dua-Dua Kali"

Post a Comment

1. Wajib berkomentar dengan bahasa yang Sopan;
2. Berkomentar dengan maksud jualan dan/atau ob*t-ob*tan tidak akan disetujui;
3. Dilarang menyebarkan link aktif;
4. Lain-lain yang dianggap melanggar.