Rukun Islam dan Penjelasannya Beserta Dalilnya

Kata dan istilah “rukun” memiliki dasar yang merupakan hasil dari ijtihad para ulama untuk mempermudah memahami agama. Rukun adalah bagian sesuatu yang menjadi syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika salah satu rukun tidak ada atau tidak terlaksana maka sesuatu tersebut tidak terjadi. Penerapan kata dan istilah rukun telah banyak kita lihat dalam kehidupan beragama. Baik itu rukun iman, rukun islam, rukun shalat, rukun wudhu, rukun mandi dan rukun-rukun lainnya. Bermula pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak, artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak terlaksana, masih memungkinkan Islam masih tetap ada tergantung amalan apa yang ditiadakan.

Sebagaimana kita seorang yang islam, sudah sepantasnya kita ketahui yang mana saja rukun islam itu agar tercapai kesempurnaan islam dan bukan islam abal-abal alias islam KTP. Rukun islam merupakan pondasi islam sebagai agama dan merupakan pokok utama dalam beragama. Rasulullah SAW. bersabda:

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra., dia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR.Bukhori dan Muslim)

Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah ra., ia berkata:

shalat merupakan shalah satu rukun islam
Seseorang dari penduduk Najed yang kusut rambutnya datang menemui Rasulullah SAW. Kami mendengar gaung suaranya, tetapi kami tidak paham apa yang dikatakannya sampai ia mendekati Rasulullah SAW. dan bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah SAW. bersabda: (Islam itu adalah) shalat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu bertanya: Adakah salat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukan salat sunat. Kemudian Rasulullah bersabda: (Islam itu juga) puasa pada bulan Ramadan. Orang itu bertanya: Adakah puasa lain yang wajib atasku? Rasulullah SAW. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan puasa sunat. Lalu Rasulullah SAW. melanjutkan: (Islam itu juga) zakat fitrah. Orang itu pun bertanya: Adakah zakat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah. Kemudian lelaki itu berlalu seraya berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah SAW. bersabda: Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya. (Shahih Muslim No.12) 

Maka marilah kita bahas satu persatu dari rukun islam tersebut agar kita tidak meninggalkan satupun sehingga islam kita sempurna. Apalah gunaya jika kita beragama islam namun tidak memiliki kesempurnaa.

Adapun rukun - rukun Islam itu ada 5 (lima) perkara yaitu :

1.    Mengucap dua kalimah syahadat
Dua kalimah syahadat adalah mengakui bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT. dan mengakui bahwa nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah SWT. berikut ucapannya:

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullaah
yang artinya "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah rasul (utusan) Allah".

Syahadat memiliki rukun alias Syahadat tidak akan sah sehingga tidak terkumpul padanya tiga perkara yaitu mengikrarkan dengan lidah (ucapan lisan), mentasydikkan dengan hati (keyakinan hati), dan mengamalkan dengan perbuatan (mengaplikasikannya dalam kehidupan). Dua kalimah syahadat merupakan pokok pertama yang harus ada ketika berada dalam islam. Biasanya orang yang baru masuk islam akan di syahadatkan, ada juga orang yang hendak disunnat mengucapkan dua kalimah syahadat.

Seperti yang pernah terjadi pada Cabang Rumah Tahanan Negara Blangkejeren yang merupakan unit palaksa teknis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kantor Wilayah Aceh, dua orang narapidana menjadim mua’allaf dalam kurun waktu yang berbeda. Mereka bersungguh-sungguh ketika masuk ke agama islam. Meskipun mereka telah mengucapkan dua kalimah syahadat ketika pertama masuk islam namun mereka juga dituntun lagi mengucapkan dua kalimah syahadat ketika hendak melakukan Sunat Rasul agar sempurna keislamannya. Tidak hanya mu’llaf yang mengucapkan dua kalimah syahadat ketika Sunat Rasul namun semua orang muslim Wajib melakukannya.

2.    Mendirikan sholat atau sembahyang
Orang yang sudah mukallaf (islam, baligh, berakal) wajib baginya untuk shalat lima waktu. Tidak ada shalat lain yang wajib baginya kecuali jika ada shalat nazar yang diikrarkan. Mendirikan shalat adalah ciri khas dari seorang muslim karena Sabda Rasulullah SAW.

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thabariy dengan sanad shahih.)

Nah, jika saja kita telah meninggalkan shalat fardhu lima waktu sehari semalam maka kita termasuk kedalam orang yang syirik (menyekutukan Allah). Apa salahnya kita mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam tersebut selain sebagai kewajiban juga sebagai bukti rasa syukur kita atas nikmat yang banyak yang Allah SWT. limpahkan kepada kita. Selain itu, satu waktu dari shalat juga tidak begitu lama sampai berjam-jam. Melakukan hal lain saja kita sanggup berjam-jam kenapa menghadap kepada Allah untuk mengerjakan kebaikan tidak sanggup. Inilah keanehan ummat akhir zaman, bermain di sosial media tidak bosan meskipun 24 jam, main game tidak ketinggalan merkipun mata sudah berlingkaran hitam, padahal semua itu mengeluarkan dana dan biaya yang pada dasarnya sangat sulit kita cari. Jika harta yang kita miliki mudah untuk kita dapatkan lantas dari mana harta itu datang? Bukankah dari Allah? Maka oleh sebab itu sudah sepentasnya kita mensyukuri nikmat Allah tersebut dengan shalat alias mengerjakan apa yang di perintahkan oleh-Nya. Karena,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. )

3.    Mengeluarkan zakat
Zakat terbagi dua yaitu zakat mal (zakat harta) dan zakat fitrah. Kedua-duanya berfungsi untuk membersihkan harta yang kita miliki. Mengeluarkan zakat adalah kewajiban setiap insan terutama yang mampu. 

Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. Islam manakah yang paling baik? Rasulullah saw. bersabda: Memberikan makanan, mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal. (Shahih Muslim No.56) 

Ketahuilah bahwa, selain menjadi pokok menjadi muslim sejati, zakat merupakan suatu kewajiban yang mendatangkan manfaat bagi siapa saja yang mengeluarkan dengan ikhlas, ingat hanya dengan ikhlas. Karena jika tidak ikhlas maka sia-sia saja amalan tersebut. salah satu manfaatnya adalah Allah SWT. akan memberikan keberkatan terhadap harta bahkan menggantikannya dengan berlipat ganda dan dengan yang lebih baik kepada si pemberi zakat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi, Rasulullah SAW. bersabda,:

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

 "Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya aku berinfak kepadamu." (Muttafaq 'Alaih)

Dan Allah SWT. berfirman pula:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba' ayat 39)

Seperti yang kita bicarakan di atas tadi, bahwa makna hadits di atas adalah Allah akan memberika kepada kita ganti bahkan berlipat ganda dan membuat harta kita semakin berkah. Sebenarnya bukalah banyaknya yang kita butuhkan akan tetapi berkahnyalah yang paling utama. Apalah guna harta banyak namun tidak berkah. Bahkan banyak orang yang banyak harta namun imannya terkoyak. Kenapa? Karena meraka terpedaya oleh hasutan syaitan dengan tidak berzakat dan terus mengumpulkan harta hingga lupa kewajibannya sebagai seorang insan.

Allah Ta'ala berfirman,

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةًۭ مِّنْهُ وَفَضْلًۭا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah ayat 268)

Selain sebagai orang kikir dan hartanya yang banyak mengoyak keimanan, orang yang enggan menunaikan zakat akan mendapat gelar sebagai golongan pendusta agama yaitu orang-orang yang akan meruntuhkan agama. Dan pada akhirnya menjadi jilatan api neraka, nauzubillahi min  zalik.

4.    Berpuasa di bulan Ramadhan
Puasa ramadahan merupakan puasa yang kita lakukan sebulan penuh dan hanya sekali dalam setahun. Puasa ramadahan adalah rukun iman yang ke-4 yang wajib kita kerjakan. Tidak boleh meningggalkan puasa ramadahan bagi siapa saja yang beragama islam. Seperti yang difirmankan Allah SWT. berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah ayat 183)

Tidak lain dan tidak bukan, puasa adalah untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT. kewajiban puasa bukanlah kewajiban semasa kita semata akan tetapi masa sebelum nabi Muhammad SAW. juga telah mengerjakan yang namanya puasa. Selain sebagai penambah ketaqwaan, puasa juga bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa ilmuan telah malakukan riset terhadap puasa dan hasilnya sungguh luar biasa yaitu sangat banyak sekali manfaat yang terkandung didalamnya. Contoh saja ketika orang hendak melakukan operasi, dokter menyarankan kepada pasien untuk berpuasa. Nah itulah bukti keampuhan puasa bagi kesehatan. Masih banyak khasiat puasa yang tidak kita bahas secara terperinci kali ini.

Apabila seseorang ozor baik itu lanjut usia, hamil, sedang dalam perjalanan (musafir) dana lain sebagainya maka boleh untuk tidak berpuasa dengan syarat-syarat tertentu yang sesuai dengan syariat atau syara’. Baik itu berupa membayarnya dengan puasa atau membayar fidiyah. Seperti firman Allah berikut ini:

أَيَّامًۭا مَّعْدُودَٰتٍۢ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌۭ طَعَامُ مِسْكِينٍۢ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًۭا فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah ayat 184)

5.    Berhaji ke Baitullah bagi orang yg mampu akan perjalanannya (yang mampu mengerjakannya)
Haji kebaitullah adalah kewajiban seorang muslim untuk di kerjakan. Berbeda dengan rukun-rukun islam yang lain, haji  hanya diwajibkan untuk orang-orang yang mampu saja. Jika orang miskin apalagi fakir maka tidak wajib baginya. Karena perjalanan haji butuh biaya dan bekal serta kemapuan lahir dan batin. Ketika mengerjakan haji kita diwajibkan siap dalam mengerjakan rukun-rukun haji. Jika tidak maka haji kita tidak mabrur (tidak sah). Adapun kewajiban Haji telah dituangkan oleh Allah SWT. dalam firmannya:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَٰلَمِينَ فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Ali-Imran ayat 96-97)

Dari ayat di atas jelas bahwa haji adalah wajib bagi yang orang islam yang mampu. Namun ada yang mengatakan bahwa haji orang miskin adalah shalat jumat, dengan pedoman hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الجمعة حج الفقراء و المساكين 

Rasulullah SAW bersabda “Shalat jum’at adalah haji bagi para orang fakir dan orang miskin”
Nah, dari beberapa pendapat bahwa hadits di atas tidak shahih bahkan hadits palsu. Perawi hadits diatas adalah Abu Nu’a-im, Al-Qudha’i dan Ibnu ‘Asakir dari Ibnu ‘Abbas dengan lafazh “Faqir” saja, dan juga dirawi oleh Al-Qudha’i  dan Ibnu Zanjawa-ih dengan lafazh “miskin saja. Hadits ini dimuat di dalam Al-Jami’ush-Shaghir, no. 2659.

Al-Munawi menuturkan di dalam Fa-idhul-Qadir Syarh Al-Jami’ush-Shaghir: “Hadits ini (juga) diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah. Mereka semua meriwayatkannya melalui Isa bin Ibrahim Al-Hasyimi, dari Muqatil, dari Adh-Dhah–hak, dari Ibnu ‘Abbas. Al-‘Iraqi mengatakan: “Sanad hadits ini dha’if“.

Syaikh Al-Albani memberikan penjelasan bahwa Muqatil ini yaitu yakni bin Sulaiman adalah seorang pendusta dan perawi sebelumnya yaitu Isa bin Ibrahim Al-Hasyimi, adalah seorang yang sangat dha’if. Imam Al-Bukhari dan An-Nasai mengatakan mengenai hadits tersubut: “Haditsnya munkar“. Maka daripada itu, marilah kita beralih kepada hadits yang shahih berikut ini:

Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk shalat sunnah Dhuha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) shalat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘illiyyun (kitab catatan amal orang-orang shalih)

Kerjakanlah haji jika kita sudah memiliki kemampuan baik lahir maupun batin. Sehingga harta, waktu dan kesempatan kita tidak sia-sia dalam memenuhi panggilan Allah SWT. sehingga kesempurnaan rukun islam kita tercapai. Selain itu juga kita melakukan haji dengan keikhlasan semata yaitu lillahita’ala.

Artikel terkait : Rukun iman dan penjelasannya

Demikian saja ulasan kali ini, semoga memberikan faedah dan diredhai oleh Allah SWT.. Dan semoga Allah selalu menuntun kita kejalan yang benar sehingga kita mampu memanfaatkan harta dan kemampuan yang kita miliki kepada kebaikan dan mencapai keislaman yang hakiki. Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

0 Response to "Rukun Islam dan Penjelasannya Beserta Dalilnya"

Post a Comment