Hal-hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Imam Syafi'i

Seperti halnya shalat, wudhu juga memiliki beberapa hal yang dapat membatalkannya. Baik itu sengaja atau tidak disegaja, apabila telah kita miliki atau kita telah mendapatkan hal yang dapat membatalkan wudhu baik itu cuma satu hal saja maka wudhu kita akan batal dan wajib kita mengulanginya apabila hendak melaksanakan shalat atau ibadah lain yang diwajibkan untuk wudhu. Jika kita hendak memperbaharui wudhu kita maka diperbolehkan dalam agama dan hukumnya sunnat. Seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW. berikut ini.

Abu Hurairah berkata, 'Tidaklah wajib mengulangi wudhu kecuali bagi orang-orang yang berhadats. 

Akan tetapi apabila wudhu kita yang pertama (wudhu yang belum batal tadi) tidak sempurna atau ada salah satu bagian dari anggota wudhu kita tidak terkena air (hal keadaan tidak sengaja atau tidak di ketahui) dan pada wudhu yang kedua ini (yang di perbaharui) terkena air pada bagain itu maka wudhu kita yang pertama tidak sah. Begitulah yang di jelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin.

hal yang dapat membatalkan wudhu
Setelah kita membahas sebelumnya tentang syarat sah wudhu dan rukun wudhu maka sudah saatnya kita mengetahui hal-hal apa saja yang dapat membatalkan air sembahyang atau wudhu kita. Adapun mengetahuinya adalah wajib. Karena bagaimana kita akan beribadah dengan benar apabila yang membatalkannya saja kita tidak mengetahui. Jangan-jangan wudhu sudah hilang akan tetapi kita masih melaksanakan ibadah disebabkan kemiskinan ilmu pada diri kita. Berikut ini adal hal-hal yang dapat membatalkan wudhu yang wajib kita ketahui.

Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu menurut Imam Syafi'i :

1.    Keluar sesuatu dari qubul dan dubur kecuali mani
Sebagai makhluk yang normal dan masih diberikan kesehatan oleh Allah Yang Maha Kuasa, sudah tentu kita masih mengelurkan sesuatu dari qubul dan dubur kita. Karena jika kita tidak sehat maka hal tersebut akan susah terjadi. Sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur akan menyebakan hilang wudhu. Baik yang keluar berupa kotoran, angin (kentut), darah haid (bagi wanita yang datang bulan), madzi wadi dan lain sebagainya. Namun wudhu tidak batal apabila yang keluar adalah mani yaitu mani. Akan tetapi baginya diwajibkan mandi sebagaimana Ibnu abbas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan.

Beliau berkata, “Mani, wadhi, madzi. Adapun mani mewajibkan mandi. Adapun wadhi dan madzi, cucilah kemaluanmu, kemudian berwudhulah sebagaimana wudhu-mu untuk shalat”. (Riwayat Muslim)

Seperti sabda Rasulullah SAW. “Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah.”(HR. Bukhari Muslim). 

Dan menurut imam syafi’i juga mengatakan bahwa keluar mani tidak membatalkan wudhu akan tetapi wajib baginya mandi. jadi jelas menurut imam syafi'i bahwa segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur adalah membatalkan wudhu kecuali mani. Dan apabila wudhunya tidak sah maka jelas shalanya tidak sah. Seperti sabda Rasulullah berikut ini: 

Siapa yang di timpa (mengeluarkan) muntah, mimisan, qalas (muntah yang keluar dari kerongkongan) atau madhi (di dalam shalatnya) hendaklah ia berpaling dari shalanya lalu berwudhu (HR. Ibnu majah No. 1221)

Adapaun cara mencucinya telah dijelaskan Rasulullah dalam Haditsnya: “cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut.”(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Nah, bagaimana jika kita shalat dengan menggunakan pakaian yang terkena mani, madzi atau wadi? apakah boleh menggunakan pakaian tersebut?

Sulaiman bin Yasar berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah tentang pakaian yang terkena mani. Dia menjawab, 'Aku mencucinya dari pakaian Rasulullah SAW. dan beliau pun keluar untuk shalat, padahal noda-noda mani itu masih terlihat.'"

Khusus Untuk madhi dan wadhi maka menyucikannya terlebih dahulu maka baru boleh digunakan untuk shalat.

2.    Hilang akal sebab gila, pingsan, mabuk dan tidur yang tidak tetap atau tidur nyenyak
Apabila kita telah mengambil wudhu, kemudian kita pingsan atau mabuk atau tidur yang tidak tetap maka wudhu kita batal. Termasuk juga hilang akal sebab gila. Apakah ada orang gila tiba-tiba dalam sekejab? Ada, penyakit gila seperti ini akan kambu pada waktu tertentu, maka pada saat dia kambuh otomatis hilang wudhunya. Mengenai tidur, tidak semua tidur dikategorikan membatalkan wudhu. Tidur yang tetap alias tidak nyenyak atau dengan keadaan tidak bergerak-gerak atau tidur yang tidak berubah kedudukannya maka wudhu tidak batal.  Dengan kata lain, Jika kita tertidur lalu kita mendapati posisi kita masih semula maka wudhu kita tetap sah. Namun jika kita ragu akan posisi tidur kita yang berobah atau kita ragu wudhu kita telah batal atau tidak, maka lebih baik kita memperbaharui wudhu. 

3.    Tersentuh kulit laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa yang bukan muhrim (mahram)nya
Apabila tersentuh kulit laki-laki dan perempuan yang sudah sampai umur atau disebut sudah baliq yang bukan muhrim maka wudhu kita akan batal yaitu dengan syarat apabila tersentunya tidak memakai tutup, contohnya dilapisi kain. Adapaun bermula muhrim itu adalah keluarga yang tidak boleh di nikahi. Ada beberapa orang yang tergolong mahram atau muhrim kita yaitu ayah dan ibu, saudara laki-laki dan perempuan, anak, kakek dan nenek serta paman dan bibi saudara sesusuan dan masih banyak lagi. Bila seseorang yang bukan muhrim/ mahram kita tetapi dia belum sampai umur atau baliq  baik itu laki-laki maupun perempuan maka tidak akan batal wudhunya.

Ada sebagian orang mengatakan bahwa istri boleh menyentuh kulit suami atau suami boleh menyentuh kulit istri dalam keadaan berwudhu dan wudhunya tidak batal. Sesungguhnya ini adalah sebuah kesalahan. Meskipun kita sudah menikah dengannya, sudah halal bagi kita, akan tetapi dia bukanlah mahram kita. Lihat siapa saja mahram kita di atas tadi. dan lihat apa itu pengertian mahram,  yaitu orang yang tidak boleh dinikahi. Maka jika istri atau suami bersentuh kulit dalam keadaan berwudhu maka wudhunya BATAL. 

4.    Tersentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan atau jari-jari yang tidak memakai tutup
Hal yang dapat membatalkan wudhu selanjutnya adalah menyentuh kemaluan baik itu qubul atau dubur meskipun kemaluannya sendiri. Qubul adalah kemaluan berupa jenis kelamin kita dan dubur adalah tempat keluarnya kotoran berupa feses atau sering disebut anus. Apabila kita menyentuh qubul atau dubur baik sengaja atau tidak yaitu dengan menggunakan telapak tangan dan jari-jari maka wudhu kita batal kecuali kita memakai penutup. Dan jika kita menyentuhnya dengan punggung tangan atau tangan bagian belakang maka itu tidak membatalkan wudhu.

Perlu kita ketahui bahwa, apabila kita dalam keadaan berwudhu kemudian terkena najis maka kita tidak wajib untuk mengulang wudhunya, akan tetapi baginya cukup dengan mencuci bagian yang terkena najis saja. Contoh apabila tangan terkena taik cicak maka basuhlah tangan dengan air yang suci lagi menyucikan.

Inilah beberapa hal yang harus dihindari ketika dalam keadaan berwudhu. Agar wudhu kita terus terjaga dan kita melakukan ibadah secara sah dan afdhal. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita dan semoga ibadah kita selalu diterima oleh Allah, Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

0 Response to "Hal-hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Imam Syafi'i"

Post a Comment